Kamis, 26 Juli 2012

On 23.27.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments


dakwatuna.com - Sahabat muslim sekalian, jika kita mendengar kata selingkuh maka yang ada di benak kita ialah sebuah perbuatan tercela dan tanda ketidaksetiaan seorang suami atau istri kepada pasangannya. Selingkuh merupakan tanda bahwa sudah tidak adanya lagi rasa saling memiliki dan menyayangi. Mereka yang pernah mengalami pengalaman “diselingkuhi” oleh pasangannya tentunya merasakan betapa dahsyatnya sakit hati yang di terima, betapa remuk redamnya jiwa yang menjadi korban dari tindak tercela tersebut. Namun, pernahkah sahabat sekalian merenungi, ternyata tanpa kita sadari kita sebagai manusia ciptaan Allah ini, tanpa di sadari seringkali melakukan “perselingkuhan” atau menomorduakan Allah dan menciptakan tandingan baru bagi kekuasaannya Allah di antaranya ialah:
1. Sahabat sekalian coba mari kita renungi, adakah di antara kita yang ketika online waktu yang kita sediakan jauh lebih banyak dari pada tilawah Al Quran atau berdzikir kepada Allah? Jika ya, berarti kita telah “berselingkuh” dari sang Maha Pengasih Allah Azza Wa Jalla. Bahkan yang lebih buruk, apakah waktu kita buat buang air besar jauh lebih lama dari pada waktu kita untuk tilawah Al –Quran? Allahu Akbar, ya Rabb ampunilah hambaMu ini yang lebih khusyu saat online di jejaring sosial dari pada saat tilawah Al-Quran dan berdzikir memuja asmaMu.
2. Wahai Allah ampuni hambaMu yang lemah ini, yang lebih suka begadang untuk melihat serunya pertandingan sepak bola daripada berkhalwat denganMu di duapertiga malam, waktu dimana orang-orang shalih bertahajud. Ampuni hamba ya Allah, jika lebih nyaman berada di kasur empuk yang membuat kami terbuai dalam mimpi-mimpi indah nan menipu, daripada sujud di selembar sajadah untuk bermunajat kepadamu meminta ridha dan berkahMu untuk kehidupan kami.
3. Ya Rabb, Hamba mohon ampun jika diri hamba yang hina ini lebih taat kepada manusia yang mempunyai kedudukan daripada taat kepadaMu, ampuni hamba yang lebih cepat menyambut dan segera datang saat direktur hamba memanggil, sedangkan saat suara AdzanMu di lantunkan, hamba memiliki seribu alasan untuk tidak segera menyambut seruanMu dan hamba tidak merasa bersalah sama sekali, ya Rabb betapa penuh noda dan rapuhnya keimanan hamba.
4. Ya Allah hamba mohon ampun, jika hamba selama ini lebih cinta kepada kekasih yang belum halal buat hamba, daripada cinta kepadamu. Maafkan jika hamba lebih sering membayangkan pasangan pujaan hamba daripada membayangkan betapa dahsyatnya neraka dan indahnya syurga.
5. Maafkan hamba ya Allah jika selama ini hamba lebih sering melihat pesan di handphone canggih hamba setiap selesai shalat daripada melihat pesan-pesan hadits Rasulullah, kekasihmu yang agung. Hamba lebih sering menangis karena tidak dapat tiket konser artis luar negeri daripada menangis ketika membaca ayat-ayatMu.
6. Ya Allah, ampuni hamba yang bodoh ini, ketika hamba menjadi merinding saat mendengar seorang kafir bernyanyi dengan merdunya daripada saat mendengar Ayat-ayat Al-Quran dibacakan. Hamba merinding saat mendengar pidato presiden negara adi daya saat dia ada di negara hamba. Sedangkan ketika ulama berkhutbah di Masjid saat Shalat Jum’at Hamba malah tidur dengan nyenyaknya, seolah perkataan khatib yang penuh hikmah itu adalah hal yang membosankan, padahal di dalamnnya terkandung asma dan kalamMu.
7. Ya Rabb, ampuni hamba yang hanya bisa berkata-kata bijak di jejaring sosial tapi di belakang hamba jauh dari bijak, bahkan tidak sama sekali melakukan apa yang hamba tulis itu.
Ya Rabb, ampuni hamba yang tanpa disadari hamba “berselingkuh” dari mu setiap hari dan setiap waktu, ampuni hamba yang merasa diri hamba jauh dari dosa, padahal dosa-dosa itu sudah berkarat di diri hamba, sehingga tidak hamba sadari. Wahai Allah ampuni hambaMu ini setiap hari, dan hamba yakin Engkau Maha Pengampun kepada HambaMu, sesungguhnya rahmatMu lebih luas daripada dosa-dosa hamba.
On 23.03.00 by PKS Lampung Selatan in , ,    No comments

dakwatuna.com –  “Sungguh, hidayah itu akan datang kepada siapa saja yang dikehendakinya

Aku tak mampu membahasakan lewat definisi tentang arti ‘tarbiyah’. Bagiku, tarbiyah merupakan bola besar yang akan terus menggelinding dan mendatangi siapa saja yang hendak ditujunya. Bola besar itulah yang akan menjadi penyejuk bagi yang mendapatinya. Namun, bola besar itu akan menjadi bara bila yang didatanginya tak mampu melihat keindahan yang dibawa dan dipancarkannya.
Sedikit ingin berbagi dengan kalian. Kembali mereview 5 tahun lalu (sekarang 6 tahun). Ketika kali pertama aku mengenal lebih jauh seperti apa kampus yang sesungguhnya. Kali pertama diperkenalkan dengan jamaah ini. Sebuah momen yang takkan pernah habis untuk kututurkan, tak bosan untuk kudendangkan, dan takkan pernah ingin aku lupakan. Berawal dari sebuah ajakan teman. Teman yang tentu ingin melihat hal baik pada teman yang dia ajak. Satu dari teman yang diajak itu adalah ‘aku’. Kaki ini pun melangkah ke sebuah pertemuan yang bagiku itu sangat asing. Asing dikarenakan kondisi yang ada di dalamnya. Asing karena metode yang berlangsung. Amat asing karena wajah-wajah yang kulihat memang tak pernah tersorot mata. Berbekal niat dan ucapan terima kasih. Kaki pun melangkah. Pintu hati terketuk??? Jawaban itu lama baru kutemukan. Terbiasa dengan kehidupan yang santai membuat kaki ini enggan untuk mengenal jamaah itu lebih jauh. Mungkin itu yang disebut dengan malas. Malas yang merupakan salah satu sifat syaithon. Sepertinya berusaha memburamkan titik-titik terang yang muncul sedikit demi sedikit dalam hati. Hingga kelembutan seorang guru yang biasa disebut dengan murabbiyah meluluhkan hati ini. Itu baru luluh, belum sempat mengikat hatiku untuk lebih mencintai jamaahnya. Tiga tahun, yah kurang lebih tiga tahun aku bersamanya. Memetik ilmu sedikit demi sedikit tentang jamaah yang ternyata memiliki sebuah nilai melebihi berlian. Padahal aku menghargainya sebatas permata biasa yang bernilai biasa-biasa. Aku pun mulai menangis ketika membaca kisah di tengah lingkaran. Aku mulai menyadari bahwa betapa dunia ini membutuhkan orang saleh yang tidak hanya sekadar saleh bagi diri sendiri. Namun, jauh…jauh…amat jauh, kesalehan itu perlu didistribusikan. Perlu diaplikasikan. Diaplikasikan pun masih butuh tanda tanya besar buatku.
Memoar Tarbiyah
Kini, kuukir kembali tentang kisah indah itu dalam catatan cinta yang kuberi judul Memoar Tarbiyah. AKU sedikit pikun kalau ditanya tentang kapan tepatnya aku mengenal tarbiyah? Tahun aku tahu, namun tanggal dan hari sepertinya tak begitu membekas dalam memori ini. Seperti yang telah kuungkapkan pada awal catatan. Berawal dari ajakan seorang teman. Semoga beliau selalu diberi rahmat oleh yang mahakuasa lahir dan batin. Bila beliau dalam keadaan sakit, semoga penyakitnya diangkat oleh Allah tanpa mengurangi ketakwaan dan keimanannya. Amin ya Robbal ‘alamin.
Tulisan ini pun baru kutuang beberapa menit yang lalu atas permintaan dari guru spiritual yang biasa dipanggil dengan murabbiyah alias MR bila disingkat (cerita 7 bulan yang lalu) Tarbiyah, tidak ada tempat yang lebih kunanti selain duduk dalam lingkaran, bercengkerama dengan qadhoya ‘curhat’, dan menikmati kuliner yang tersaji. Rindu yang begitu berat tiba-tiba menjadi enteng jika melihat senyum mereka (teman-teman tarbiyah). Indah. Sungguh suasana yang tak bisa tergantikan. Kekaguman pada MR yang tak terbatasi oleh apa pun, makin mempererat kecintaan kami. Sesuatu yang sulit dibagi kepada orang lain, bahkan kepada orang tua sekali pun. Akan mencuat dengan sendirinya, bukan karena paksaan atau intimidasi. Kepercayaan dan solusi. Sinergisitas kedua kata itu yang mencuatkannya. Semua itu kudapatkan dari sarana yang disebut ‘TARBIYAH’.
Sarana yang begitu mendidik, namun orang-orang akan merasa asing jika ia tak menyelami kedalamannya. Bahkan bisa juga dianggap sebagai aktivitas tak berbobot. Itu karena mereka sangat asing. Ingin kutularkan rasa bahagia ini. Pun keindahan itu ingin kutebar. Namun, rasa takut itu terkadang muncul. Tak semua orang mau menerima, tak semua orang sepaham. Namun, sedikit yang ingin merasakannya. Tetapi, aku begitu yakin seyogianya mereka tahu bahwa media ini memiliki nilai melebihi intan dan berlian. Takkan mau mereka berpaling. Bukan lagi mereka yang dicari, namun mereka yang mencari. Ternyata dalam tarbiyah itu ada ion positif dan negative. Ada hukum tarik-menarik. Aku menaruh harapan besar kepada sosok MR sebab penggerak roda-roda sarana ini adalah mereka. Teladan. Itu content yang tak bisa lepas dari mereka. Ketertarikan tak bertepi ini, semoga bisa dirasakan oleh semua kalangan yang belum sempat mencicipinya. Semoga mata mereka jeli melihat nuansa indah yang melekat.
Banyak hal yang ingin kutumpahkan di atas carik putih ini, namun sepertinya bila hanya berupa catatan singkat, maka takkan mampu menampungnya. Jazakallahu khoiran katsiir!
Rindu Tarbiyah Menggelayut
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal pada-Mu….” (Doa Rabitha)
Entah dengan cara apa aku mengembalikan kondisiku yang dulu dengan sekarang. Sembilan bulan lalu, aku masih bercengkerama dengan teman-teman yang selalu kurindukan (masih tentang tarbiyah). Kini, kami terserak. Aku meninggalkan kampung halaman (Makassar) sekitar sembilan bulan lalu. Tidak mudah untuk meraih semua ini. Kesempatan dan restu orang tua menjadi hal penting. Kumemilih untuk mengabdikan diri di sebuah desa yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Saat ini aku berada di belahan Indonesia Timur, tepatnya Dompu, Nusa Tenggara Barat. Perekrutan Sekolah Guru yang diadakan oleh Dompet Dhuafa membuatku tergerak untuk menyelami Indonesia lebih dalam. Momen itu telah kutunggu selama setahun. Setelah 2 tahun lalu (2010) ingin mendaftar, namun karena banyaknya amanah yang kuemban membuatku mengurungkan niat dan menunggu pendaftaran satu tahun ke depan (2011). Alhamdulillah, lulus.
Banyak hal yang tertoreh dalam hati, termasuk kisah tarbiyahku yang hingga kini belum jua direspon oleh pihak setempat. Bagi sebagian orang ini adalah sepele, namun bagiku ini adalah hal besar yang buatku resah siang-malam. Siapa yang tak resah? Bila saja Anda pernah mendapat tempat berbagi ilmu, namun tiba-tiba tempat itu tak ditemukan lagi, maka sungguh kerugian yang teramat sangat. Bukan hanya mata yang mengeluarkan tangis, melainkan jiwa juga merintih sakit bagai tertusuk beling. Saat menulis kisah ini pun air mata berderai hingga tubuh gemetar, namun jemari tetap lincah ingin melukiskan kerinduan pada ‘lingkaran kecil’ yang disebut tarbiyah.
Entah kendala apa yang menyebabkan demikian. Jelang empat bulan berada di lokasi terpencil bagiku bukan masalah. Jarak berapa kilo pun akan kutempuh, sesusah apa pun sinyal menghampiri kediamanku kan kuterima, seangker apa pun daerah tempatku sekarang tak berpengaruh. Semua akan kuterobos bila ‘lingkaran kecil’ itu ada. Aku hanya butuh itu untuk berbagi. Bila komunikasi melalui dunia maya tak bisa kudapatkan di daerah penempatan ini, mestinya komunikasi face to face jangan sampai enggan menghampiriku. Itulah pintaku di tiap akhir sujud. Kapan Dia menjawab tak ada yang tahu. Aku hanya berharap hal itu cepat terwujud sebab bukan hanya ragaku yang kering, jiwaku terasa gersang dan butuh siraman hujan penyejuk.
Kerinduan ini membuncah tiap melangkahkan kaki menuju masjid. Aku memang mengajarkan kalam ilahi dan sunnah Rasul di masjid untuk menunaikan kewajiban dakwah. Namun, berbagi rasanya kurang lengkap tanpa mendapat bagian. Memberi ilmu tanpa diberi bagai tak minum setelah makan. Pernahkah Anda merasakan hal demikian, usai makan namun tak minum air, rasanya haus bukan? Bila dianalogikan, maka demikianlah analogi yang tepat untukku.
Pernahkah Anda membayangkan tidak minum selama empat bulan? Aku tak yakin hal itu pernah terbesit dalam memori kita. Sehari tak minum saja, tak berani melintasi pikiran, apalagi sampai berbulan-bulan, na’udzubillah tsumma na’uudzubillah. Tubuh yang tak mendapat cairan tentu akan mati perlahan. Jiwa yang tak dapat siraman kalbu pun akan mati. Bila jiwa sudah mati, maka kebenaran akan mental.
Sekali lagi, aku rindu tarbiyahku. Ingin rasanya kerinduan ini kubagi, bahkan ingin kugantikan dengan benda yang terjangkau, namun rindu ini amat luar biasa. Kekuatannya mahadahsyat hingga ketenangan tak sepenuhnya kudapat kecuali melepasnya bersua dalam majelis tarbiyah.

Minggu, 22 Juli 2012

On 03.18.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments

بسم الله الرحمن الرحيم
Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata: bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa jangan berkata jorok, jangan berteriak-teriak dan jangan berbuat bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa’ sebanyak dua kali. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa itu lebih harum di sisi Alloh pada hari kiamat daripada bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan yang dia bergembira dengannya: ketika berbuka dia bergembira dengan bukanya dan ketika berjumpa Robbnya dia bergembira dengan puasanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Pengantar
Saudaraku, semoga Alloh merahmatimu, syariat Islam yang mulia ini telah memberikan kelapangan dan kemudahan bagi ummat manusia. Tidaklah Alloh membebankan suatu kewajiban kepada seseorang melainkan dengan memperhatikan kemampuannya. Alloh Ta’ala berfirman, “Tidaklah Alloh membebankan kepada seseorang kecuali menurut kemampuannya.” (QS. Al Baqoroh: 286)
Demikian pula ibadah puasa yang disyari’atkan kepada kita. Apabila seseorang justru dikhawatirkan tertimpa bahaya dengan melakukan puasa maka dia diperbolehkan bahkan lebih utama untuk tidak berpuasa ketika itu, seperti orang yang sedang sakit dan bepergian jauh. Alloh Ta’ala berfirman, “Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka) maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqoroh: 185)
Syaikh Abdurrohman bin Naashir As Sa’di rohimahulloh mengatakan dalam kitab tafsirnya, “Alloh Ta’ala menghendaki memberikan kemudahan kepada kalian untuk menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada keridhoan-Nya dengan semudah mungkin, dan mempermudah jalan-jalan itu dengan sepenuh kemudahan. Karena itulah semua perkara yang diperintahkan Alloh kepada hamba-Nya pada asalnya merupakan sesuatu yang sangat mudah.” (Taisir karimirrohman, hal. 86).
Pentingnya Mempelajari Tata Cara Puasa
Puasa merupakan salah satu rukun Islam. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Islam dibangun di atas lima perkara, persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa Romadhon.” (Muttafaq ‘alaihi)
Umat Islam telah bersepakat tentang wajibnya puasa Romadhon dan merupakan salah satu rukun Islam yang dapat diketahui dengan pasti merupakan bagian dari agama. Barangsiapa yang mengingkari tentang wajibnya puasa Romadhon maka dia kafir, keluar dari Islam (lihat Al Wajiz).
Oleh karenanya setiap muslim hendaknya mempelajari ilmu yang terkait dengan pelaksanaan ibadah yang agung ini. Karena ilmu itu lebih didahulukan daripada ucapan dan perbuatan, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Al Bukhori di dalam kitab Shohihnya. Beliau berdalil dengan firman Alloh Ta’ala yang artinya, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada yang berhak disembah dengan benar kecuali Alloh dan mintalah ampunan terhadap dosamu.” (QS. Muhammad: 19)
Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan, “Al Bukhori rohimahulloh berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan kewajiban memulai dengan ilmu sebelum berucap dan berbuat, ini merupakan dalil atsari (berdasarkan penukilan -pent) yang menunjukkan seorang insan mengetahui terlebih dahulu baru kemudian mengamalkan, di sana juga terdapat dalil ‘aqli nadhari (berdasarkan pemikiran dan perenungan -pent) yang menunjukkan ilmu itu didahulukan sebelum ucapan dan amalan. Yaitu dikarenakan ucapan dan amalan tidak akan menjadi benar dan diterima hingga bersesuaian dengan aturan syari’at, dan seorang insan tidak mungkin mengetahui apakah amalannya itu sesuai dengan syari’at kecuali dengan ilmu…” (Syarah Tsalatsatul Ushul, hal. 27-28).
Puasa Adalah Ibadah
Ibadah memiliki pengertian yang amat luas dan jelas yaitu, “Segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang nampak maupun yang tersembunyi.” (lihat perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang dinukil di Fathul Majid). Dan puasa termasuk di antaranya, puasa adalah amalan yang dicintai Alloh, buktinya Alloh mewajibkan puasa kepada hamba-hamba-Nya. Alloh berfirman yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqoroh: 183). Dan tidak mungkin Alloh mewajibkan sesuatu kecuali sesuatu itu pasti dicintai dan diridhoi-Nya, meskipun sebagian manusia ada yang merasa tidak suka dengannya. Cobalah perhatikan ketika Alloh mewajibkan kaum muslimin untuk berperang. Alloh berfirman yang artinya, “Telah diwajibkan kepada kalian berperang padahal itu kalian benci, bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal sebenarnya itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagi kalian. Alloh lah yang lebih tahu dan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh: 216). Dan dalam menentukan apakah sesuatu amalan itu termasuk ibadah atau bukan bukanlah akal yang menentukan, akan tetapi firman Alloh dan sabda Rosul-Nya. Sebagaimana kaidah yang sudah amat masyhur di kalangan ulama’ bahwa hukum asal ibadah (ritual) itu terlarang/haram sampai tegak dalil yang mensyari’atkannya.
Ibadah Hanya untuk Alloh
Apabila kita telah mengetahui bahwa puasa adalah ibadah maka ketahuilah saudaraku bahwasanya ibadah itu hanya boleh ditujukan kepada Alloh, karena barangsiapa yang memalingkan ibadah kepada selain Alloh dia telah terjerumus dalam kesyirikan dan kekafiran. Sebagaimana sholat akan menjadi batal dan rusak apabila pelakunya terkena hadats, maka demikian pula ibadah akan menjadi batal dan rusak apabila tercampuri kesyirikan. Sebagaimana sholat tidak sah tanpa thoharoh maka demikian pula ibadah tidak akan sah tanpa tauhid. (lihat Al Qowa’idul Arba’ karya Asy Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh).
Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Alloh maka janganlah kamu menyeru disamping Alloh sesuatupun.” (QS. Al Jin: 18). Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahulloh menerangkan, “Alloh Ta’ala melarang seorang insan menyeru/beribadah disamping Alloh sesuatupun, dan Alloh tidaklah melarang dari sesuatu kecuali karena Dia Yang Maha suci lagi Maha tinggi tidak meridhoinya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Jika kamu kufur sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan kamu, dan Alloh tidak ridho kekafiran bagi hamba-Nya dan jika kamu bersyukur niscaya Dia ridho kepadamu.” (QS. Az Zumar: 7) … dan apabila ternyata Alloh tidak meridhoi kekufuran dan kesyirikan maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk tidak ridho dengan keduanya, karena seorang mukmin itu keridhoan dan kemarahannya mengikuti keridhoan dan kemurkaan Alloh, sehingga dia akan marah terhadap sesuatu yang dimurkai Alloh dan akan ridho terhadap sesuatu yang diridhoi Alloh ‘Azza wa Jalla, maka demikian pula apabila Alloh tidak meridhoi kekufuran dan kesyirikan maka tidak semestinya seorang mukmin justru ridho terhadap keduanya.” (Syarah Tsalatsatul Ushul hal. 33-34).
Maka cobalah kita renungkan keadaan kaum muslimin sekarang ini yang sebagian di antara mereka (semoga kita tidak termasuk di dalamnya) bergelimang kesyirikan sementara mereka tidak menyadarinya bahkan membela dan melestarikannya dengan mengatasnamakan tradisi. Bagaimana bisa mereka melalaikan masalah besar ini ?! Apalah artinya mereka berpuasa menahan lapar dan dahaga jika kesyirikan masih melekat dalam hati, ucapan dan amalan mereka. Tidakkah mereka ingat firman Alloh Ta’ala yang artinya, “Sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang sebelummu, ‘Sungguh jika kamu berbuat syirik niscaya lenyaplah seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65). Maka marilah kita pelajari tauhid lebih serius lagi, jangan-jangan kita terjerumus dalam syirik dalam keadaan tidak menyadari. Bagaimana mungkin seseorang bisa berkata ‘Saya bersih dari syirik’ sementara pengertian dan macam-macamnya pun dia tidak mengenalnya. Tetapi siapakah gerangan yang mau memperhatikannya ??
Syarat Diterimanya Ibadah
Suatu amalan akan diterima di sisi Alloh apabila memenuhi dua syarat: ikhlash dan showab/benar. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah Dia mengerjakan amal sholih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al Kahfi: 110). Al Imam Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan di dalam kitab Tafsir-nya, “Dan dua hal inilah rukun amalan yang diterima; harus didasari keikhlashan kepada Alloh serta showab/benar yaitu sesuai dengan syari’at Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim juz V hal. 154).
Barangsiapa yang niatnya tidak ikhlash karena Alloh maka ibadahnya tidak diterima, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alloh berfirman yang artinya, ‘Aku adalah Dzat yang tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa mengerjakan suatu amal yang dicampuri kesyirikan kepada-Ku maka Aku tinggalkan dia beserta kesyirikannya itu.’” (HR. Muslim)
Barangsiapa yang beramal tidak sesuai tuntunan Nabi maka ibadahnya tidak diterima, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim). Jadi kedua syarat ini harus terpenuhi, apabila salah satu saja tidak terpenuhi maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Alloh.
Tujuan Puasa
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “Tujuan dari puasa bukanlah sekedar mengekang tubuh dalam rangka menahan haus dan lapar serta kesulitan, akan tetapi tujuannya adalah menundukkan jiwa dengan meninggalkan sesuatu yang dicintai demi meraih keridhoan Dzat yang dicintai. Adapun perkara dicintai yang ditinggalkan adalah makan, minum dan jima’, inilah nafsu syahwat. Adapun sesuatu yang dicintai yang dicari keridhoan-Nya adalah Alloh ‘Azza wa Jalla. Maka kita harus senantiasa menghadirkan niat ini bahwasanya kita meninggalkan pembatal-pembatal puasa ini demi mencari keridhoan Alloh ‘Azza wa Jalla.” (Tsamaniyatu Wa Arba’uuna Su’aalan Fish Shiyaam hal. 10).
Puasa Menghimpun 3 Macam Sabar
Puasa adalah ibadah yang paling utama karena ketiga macam sabar terhimpun di dalamnya, yaitu:
  1. Sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Alloh.
  2. Sabar dalam menahan diri dari terjerumus dalam maksiat kepada-Nya.
  3. Sabar dalam menghadapi takdir Alloh yang terasa menyakitkan.
Juga karena Alloh menyandarkan ganjaran puasa kepada Diri-Nya sendiri, Alloh menjanjikan balasan puasa dari sisi-Nya. Puasa merupakan rahasia antara Robb dan hamba-Nya sehingga ia menjadi amanat paling agung yang harus dijaga (lihat Taisirul ‘Allaam juz I hal. 351).


Artikel www.muslim.or.id
On 03.12.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments

Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia.

Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar.
Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan sangat mendatangkan kebaikan. Mari perhatikan hal-hal berikut:
Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi
{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
قال قتادة  رحمه الله: كان مُطَرف، رحمه الله، إذا قرأ هذه الآية يقول: هذه آية القراء.
“Qatadah (wafat: 118 H) rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim).
Asy Syaukani (w: 1281H) rahimahullah berkata,
أي: يستمرّون على تلاوته ، ويداومونها .
“Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya”(Lihat kitab Tafsir Fath Al Qadir).
Dari manakah sisi tidak meruginya perdagangan dengan membaca Al Quran?
1) Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».
“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ : تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ بِ الم وَلَكِنْ بِأَلِفٍ وَلاَمٍ وَمِيمٍ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.
“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم  , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660).
Dan hadits ini sangat menunjukan dengan jelas, bahwa muslim siapapun yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan sesungguhnya kemuliaan Allah Ta’ala itu Maha Luas, meliputi seluruh makhluk, baik orang Arab atau ‘Ajam (yang bukan Arab), baik yang bisa bahasa Arab atau tidak.
2) Kebaikan akan menghapuskan kesalahan.
{إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود: 114]
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
3) Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah.
عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»
“Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468).
4) Bacaan Al Quran akan bertambah agung dan mulia jika terjadi di dalam shalat.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ ». قُلْنَا نَعَمْ. قَالَ « فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ ».
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para shahabat) menjawab: “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.” (HR. Muslim).
Membaca Al Quran bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan
 عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ».
“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).
Membaca Al Quran akan mendatangkan syafa’at
عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ…
“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).
Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang memotivasi seseorang untuk memperbanyak bacaan Al Quran terutama di bulan membaca Al Quran.
Dan pada tulisan kali ini hanya menyebutkan sebagian kecil keutamaan dari membaca Al Quran bukan untuk menyebutkan seluruh keutamaannya.
Dan ternyata generasi yang diridhai Allah itu, adalah mereka orang-orang yang giat dan semangat membaca Al Quran bahkan mereka mempunyai jadwal tersendiri untuk baca Al Quran.
عَنْ أَبِى مُوسَى رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَعْرِفُ أَصْوَاتَ رُفْقَةِ الأَشْعَرِيِّينَ بِالْقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ بِاللَّيْلِ وَأَعْرِفُ مَنَازِلَهُمْ مِنْ أَصْوَاتِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ وَإِنْ كُنْتُ لَمْ أَرَ مَنَازِلَهُمْ حِينَ نَزَلُوا بِالنَّهَارِ…».
“Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…” (HR. Muslim).
MasyaAllah, coba kita bandingkan dengan diri kita apakah yang kita pegang ketika malam hari, sebagian ada yang memegang remote televisi menonton program-program yang terkadang bukan hanya tidak bermanfaat tetapi mengandung dosa dan maksiat, apalagi di dalam bulan Ramadhan.
Dan jikalau riwayat di bawah ini shahih tentunya juga akan menjadi dalil penguat, bahwa kebiasan generasi yang diridhai Allah yaitu para shahabat radhiyallahu ‘anhum ketika malam hari senantiasa mereka membaca Al Quran. Tetapi riwayat di bawah ini sebagian ulama hadits ada yang melemahkannya.
عَنْ أَبِى صَالِحٍ رحمه الله قَالَ قَالَ كَعْبٌ رضى الله عنه: نَجِدُ مَكْتُوباً : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ فَظٌّ وَلاَ غَلِيظٌ ، وَلاَ صَخَّابٌ بِالأَسْوَاقِ ، وَلاَ يَجْزِى بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ ، وَأُمَّتُهُ الْحَمَّادُونَ ، يُكَبِّرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ نَجْدٍ ، وَيَحْمَدُونَهُ فِى كُلِّ مَنْزِلَةٍ ، يَتَأَزَّرُونَ عَلَى أَنْصَافِهِمْ ، وَيَتَوَضَّئُونَ عَلَى أَطْرَافِهِمْ ، مُنَادِيهِمْ يُنَادِى فِى جَوِّ السَّمَاءِ ، صَفُّهُمْ فِى الْقِتَالِ وَصَفُّهُمْ فِى الصَّلاَةِ سَوَاءٌ ، لَهُمْ بِاللَّيْلِ دَوِىٌّ كَدَوِىِّ النَّحْلِ ، مَوْلِدُهُ بِمَكَّةَ ، وَمُهَاجِرُهُ بِطَيْبَةَ ، وَمُلْكُهُ بِالشَّامِ.
“Abu Shalih berkata: “Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami dapati tertulis (di dalam kitab suci lain): “Muhammad adalah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, tidak kasar, tidak pemarah, tidak berteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan akan tetapi memaafkan dan mengampuni, dan umat (para shahabat)nya adalah orang-orang yang selalu memuji Allah, membesarkan Allah ‘Azza wa Jalla atas setiap perkara, memuji-Nya pada setiap kedudukan, batas pakaian mereka pada setengah betis mereka, berwudhu sampai ujung-ujung anggota tubuh mereka, yang mengumandangkan adzan mengumandangkan di tempat atas, shaf mereka di dalam pertempuran dan di dalam shalat sama (ratanya), mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam, tempat kelahiran beliau adalah Mekkah, tempat hijranya adalah Thayyibah (Madinah) dan kerajaannya di Syam.”
Maksud dari “mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam” adalah:
أي صوت خفي بالتسبيح والتهليل وقراءة القرآن كدوي النحل
“Suara yang lirih berupa ucapan tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa Ilaaha Illallah), dan bacaan Al Quran seperti dengungannya lebah”. (Lihat kitab Mirqat Al Mafatih Syarh Misykat Al Mashabih).
Salah satu ibadah paling agung adalah membaca Al Quran
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما : ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنَ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لاَ يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا ، وَلاَ يَشْقَى فِي الآخِرَةِ ، ثُمَّ تَلاَ {فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}.
“Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat:
{فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}
“Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123) (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رضى الله عنه أَنَّهُ قَالَ: ” تَقَرَّبْ مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ “.
“Khabbab bin Al Arat radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beribadah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).
عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: ” مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ “.
“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).
وقال وهيب رحمه الله: “نظرنا في هذه الأحاديث والمواعظ فلم نجد شيئًا أرق للقلوب ولا أشد استجلابًا للحزن من قراءة القرآن وتفهمه وتدبره”.
“Berkata Wuhaib rahimahullah: “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan Al Quran, memahami dan mentadabburinya”.
On 03.07.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments

Kamis, 19 Juli 2012

On 16.34.00 by PKS Lampung Selatan in    No comments


ARAB
نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضشـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـَّهِ تـَعَالىَ

Lafadz:
Nawaitu saumagadin an'adai fardisyahri ramadhana hadzihissanati lillahita'ala.

Artinya:
"Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan bagi tahun ini karena Allah Taala"
On 16.30.00 by PKS Lampung Selatan in    No comments
ARAB

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Lafadz:
Allahumma laka sumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birohmatika yaa Ar-hamarrohimiin.
Artinya:
"Ya Allah keranaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmat MU, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih"
On 15.54.00 by PKS Lampung Selatan in , ,    No comments
On 15.53.00 by PKS Lampung Selatan in    No comments

detik news Jakarta Setelah melalui pembahasan panjang dalam sidang isbat, pemerintah akhirnya memutuskan 1 Ramadan 1433 H jatuh pada 21 Juli 2012. Keputusan itu disampaikan oleh Menteri Agama Suryadarma Ali.

"Dengan ucapkan Bismillaahirrohmaanirrohiim kami tetapkan 1 Ramadan 1433 jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012," ujar Menteri Agama, Suryadarma Ali saat
memutuskan sidang Istbat di gedung Kemenag, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/7/2012) malam.

Dalam sidang tersebut sejumlah organisasi Islam seperti Persis, Dewan Masjid Indonesia dan NU, menyetujui puasa jatuh pada Sabtu. Adapun yang berbeda pendapat dalam sidang itu ialah organisasi FPI dan An-Najat, yang menetapkan hari pertama puasa pada Jumat 20 Juli besok.

"Meskipun beda, tapi kita saling menghargai," ujar anggota Falaqiyah FPI, Muchsin Alatas dalam sidang Istbat.

Keputusan itu dibacakan setelah pembacaan laporan pengamatan hilal oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Binmas), Kementerian Agama, Ahmad Jauhari.

"Laporan rukyat yang masuk ke pusat sebanyak 38 lokasi. Semuanya menyatakan tidak melihat hilal," ujar Jauhari.

Titik lokasi pemantauan antara lain Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi tenggara, Sulut, Sulawesi tengah, NTT,
Bali, NTB, Sulsel, Mamuju, Kalteng, Kaltim, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Jatim, DIY, Jateng, hingga Aceh.

Sejumlah tokoh Islam telah hadir di antaranya Ketua Komisi VIII DPR, Ida Fauziah, perwakilan dari BMKG, perwakilan ormas Islam seperti
Persis, HTI dan PBNU, dan lembaga Islam seperti MUI, Dewan Masjid Indonesia, Badan Hisab Rukyat, dan ICMI

Selasa, 17 Juli 2012

On 02.18.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments
luthi hasan ishak
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishak menilai bahwa perhelatan Pemilukada DKI Jakarta dan Banten yang membawa kekalahan bagi PKS baru merupakan uji coba dalam pertempuran politik. Kali ini target PKS selanjutnya dalam ajang Pemilukada yakni tinggal Pemilukada Jawa Barat yang memiliki penduduk lebih dari 40 juta.

Luthfi menegaskan, PKS tak ingin kehilangan momentum lagi di pemilukada Jabar. Peta di lapangan, kata dia, sudah dipelajari dan membuat PKS datang dengan kejutan berbeda dengan Pemilukada DKI Jakarta.
“Kemenangan tak bisa diukur dengan waktu, kemenangan kita tak hanya diukur dengan satu target, ini satu diantara PR besar. Biasanya sebelum bertempur, ada uji coba yakni dalam Pemilukada Jakarta, setelah di Banten, dan Jakarta, nampaknya kita sudah bisa memastikan, dengan kehadiran Jabar Insya Allah tak akan lewat lagi dari tangan kita, tak akan lepas dari PKS,” tegasnya dalam Konsolidasi Politik di Sawangan Golf, Depok, Jawa Barat, Sabtu (14/07/12).
Pada hakekatnya, kata Lutfi, dakwah harus diuji coba dengan beragam tantangan agar semakin matang dan dewasa. Begitupula banyak tantangan yang dihadapi PKS dalam Pemilukada di Jakarta dimana menurutnya banyak pihak yang menghalangi PKS lolos ke putaran kedua.
“Yang jadi persoalan adalah mempelajari untuk bekal langkah ke depan. Dalam Pemilukada Jakarta banyak pihak yang merancang bagaimana agar jangan sampai Jakarta jatuh ke tangan PKS, mereka lakukan sejumlah langkah dan strategi, PKS enggak boleh masuk di putaran kedua, sebab kalau masuk maka tak ada lagi yang bisa menghalangi,” ungkapnya.
Akhirnya, lanjutnya, justru incumbent yang lolos ke putaran kedua bersama Jokowi-Ahok. Hal ini, lanjutnya, membuat pelajaran bagi PKS dalam Pemilukada di daerah lain.
“Untuk Jabar tak boleh terjadi lagi, di ibukota Jakarta memang tak mudah kelola kota sebesar itu, tapi di Jabar kita dapat banyak pelajaran, orang lain bisa keluarkan lebih dari Rp 1 trilyun untuk Jakarta, tapi PKS berbekal semangat kadernya, meskipun dengan fasilitas seadanya, ada pilkada-pilkada lainnya masih banyak, di Jabar, Sumut, kita harus menangkan dakwah kita,” tutupnya.
Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2012/07/14/505/663429/pks-pilkada-dki-hanya-uji-coba-pertarungan-sebenarnya-ada-di-jabar

Senin, 16 Juli 2012

On 06.29.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments
On 05.57.00 by PKS Lampung Selatan in , ,    No comments


Nasehat Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz* untuk kader dakwah:
  • Jangan terlalu fokus dengan sebab-sebab materi untuk mencapai kemenangan, tapi kurang fokus pada رَبُّ الْاَسْبَاب “Rabbul asbaab” (Allah yang menjadi Tuhan/Pemilik dari sebab-sebab).
  • Jangan terlalu fokus dengan manajemen, idariyah, takhtith (perencanaan), tapi kurang fokus dalam hak-hak Allah. Takhtith dan manajemen baru efektif kalau dilakukan oleh tangan yang berwudhu, kening yang banyak sujud, jiwa yang khusyu’, hati yang tenang dan tunduk pd Allah. Tanpa itu, sehebat-hebatnya manajemen dan takhtith yang dilakukan takkan memberi kemenangan.
  • Apa yang dianggap orang adalah nafilah (sunah), bagi antum bernilai faridhah (wajib). Dimana posisi antum dalam tilawah minimal 1 juz sehari? Dimana posisi antum dalam raka’at-raka’at saat malam? Dimana posisi antum dalam infak? Dimana posisi antum dalam raka’at dhuha?
  • Lawan politik uang yang biasa dijadikan senjata lawan-lawan politik antum dengan akhlak, dengan ukhuwwah, dan dengan ubudiyah…. Bukan dengan uang juga.
  • Senjata antum hanya dua: hubungan baik dengan Allah dan akhlak dengan manusia. Dengan itu, dua cinta berhimpun, cinta Allah dan cinta manusia. Ustadz al-Banna mengatakan: nahnu nuqaatil an naas bil hubb (kita menaklukan manusia dengan cinta)