Jumat, 25 Juli 2014

On 21.52.00 by PKS Lampung Selatan in ,    1 comment

KHUTBAH IDUL FITRI 1435 H: KEMBALI MENUJU KESUCIAN
(Ustadz Joko Tamami)

الله اكبر 9 مرات. الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا اله الاالله والله اكبر الله اكبرولله الحمد. الحمد لله غَافِرُالذَّنْبِ وَقَابِلُ التَّوْبِ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لااله الا هو واليه المصير. أشهد أن لااله الاالله رب كل شيء وهوالعليم الخبير. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الدَّاعِي وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللهم صل وسلم علي محمد الْمُصْطَفَي الْمُخْتَارُ وعلي آله وأصحابه وَمَنْ يُوَالِيْهِمْ مَنِ اتَّبَاعَهُ الأَخْيَارَ. أمابعد فياأيهاالموْمنون العائدون أصيكم وإياي نفسي بتقوي الله فِي السِّرِّوَالْعَلَنِ وَفِي كُلِّ أَحْيَانٍ فَإِنَّ اللهَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلِيٌّ وَنَصِيْرٌ


Allahu Akbar walillahil hamd
          
Kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya sehingga pada pagi hari ini dapat berkumpul di Musholla yang kita cintai. Berkumpul dalam dekapan kasih sayang Allah SWT dan naungan kebahagian sebagai insan bertaqwa.
            
Pada pagi hari ini, dilingkupi suasana yang cerah dan kegembiraan pada siapapun yang telah merasa berhasil melewati ujian dan pendidikan dari Allah SWT melalui bulan Ramadhan. Melewati ujian ibadah Shaum yang paripurna, yang bukan sekedar hanya menahan lapar dan hausnya saja, tetapi sekaligus mengendalikan hawa nafsu yang bisa membuat tercorengnya ibadah shaum yang kita laksanakan. Tetapi perlu diingat bahwa Ramadhan bukan hanya sekedar pelaksanaan ibadah shaumnya saja, ibadah Ramadhan juga diperkuat dengan amaliyah yang lain, baik sholat sunnah tarawihnya, solat tahajudnya, tilawah dan tadarus Al-Qur’annya serta indahnya berbagi dengan sesama sehingga membuat ibadah Ramadhan menjadi demikian lengkap.

Jama’ah Rahimakumullah
            
Hari ini Idul Fitri yang berarti sama artinya kita ditinggalkan oleh bulan Ramadhan. Bulan yang memiliki suasanan yang sangat khas, dan tak akan pernah kita menemui suasana yang demikian khas kecuali hanya di bulan Ramadhan. Sehingga wajar bagi mereka yang gemar dalam berbuat kebaikan, maka ditinggalkannya oleh bulan yang penuh kebaikan ini sama artinya mereka merasa ditinggalkan oleh kebaikannya yang banyak. Bagaimana tidak, amaliyah sunnah yang dikerjakan pada bulan Ramadhan maka Allah membalasinya dengan pahala amaliyah wajib. Subhanallah.

Belum lagi adanya malam Lailatur Qodar atau malam kemuliaan, malam yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan. Seandainya kita mendapati malam tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah SWT, maka tentulah pahalanya seperti kita beribadah sepanjang 1000 bulan lamanya. Subhanallah.

Malam Lailatur Qodar ini sedemikian agungnya sehingga hakekatnya tak terjangkau oleh pengetahuan manusia. Karena kebodohan dan kepicikan dari manusia sajalah sehingga mereka melupakan malam kemuliaan ini, Na’udzubillahi min dzalik.

Jama’ah Rahimakumullah
            
Ditinggalkannya oleh bulan Ramadhan harusnya jangan membuat kita gembira, karena belum tentu kita mendapatinya di tahun yang akan datang. Padahal boleh jadi kita adalah orang-orang yang gagal dalam mempergunakan kesempatan di bulan Ramadhan ini. Hal itu bisa dilihat dengan semakin bertambah buruknya prilaku dan akhlaq kita, semakin lemahnya kita dalam beribadah, semakin lemahnya dalam menahan amarah, semakin lemahnya menahan diri dari menyakiti orang lain, semakin lemahnya dalam menghargai orang lain, semakin lemahnya sikap menghargai orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda ,semakin lemahnya kita dari memperbaiki silaturahim baik dengan saudara maupun dengan tetangga. Hanya karena merasa diri lebih baik dari orang lain maka tidak pantas kiranya kita bertegur sapa dengan orang-orang yang levelnya (mugkin) kita anggap lebih rendah dari kita. Padahal kemulian dan level seseorang bukan dilihat dari sesuatu yang bersifat fisik saja, melainkan sejauh mana hatinya tertambat kepada Allah swt.
            
Kegagalan demi kegagalan dalam mempergunakan kesempatan setiap bulan Ramadhan, harusnya membuat kita menyadari betapa bergelimangnya diri ini dari dosa dan kedurhakaan kepada Allah SWT. Bagaimana kita tak akan sedih seandainya Allah SWT membukakan catatan amaliyah kita selama Ramadhan dari tahun ke tahun ternyata tidak beranjak dari angka standar puasa, yaitu senilai lapar dan hausnya saja, dan pahala yang lainnya tak lebih dari sekedar menggugurkan kewajiban saja. Masya Allah.
            
Wajar saja jika para salafush sholih selalu menangisi akan perginya bulan Ramadhan, menangisi ketidakmampuannya dalam memanfaatkan dengan maksimal bulan keberkahan ini, lalu bagaimana dengan kita? Wallahu a’lam

Jama’ah Rahimakumullah
            
Janji Allah SWT tak akan pernah bohong, salah satunya adalah janji Allah untuk mereka yang berhasil menjalani ibadah Ramadhan dengan meraih ketaqwaan dan kesucian fitrahnya. Ini adalah harga yang pantas untuk si mukmin, karena si mukmin mengerti betul tentang keinginan Allah untuk dirinya, mengerti betul bagaimana mensikapi dan melaksanakan perintah-perintah Allah dan sekaligus memahami betul bagaimana meninggalkan larangan-larangan Allah. Hal itu bukan dengan keterpaksaan ia lakukan , tetapi ia memahami dibalik perintah dan larangan Allah SWT tersebut ada nilai kebahagiaan  hakiki akan didapatkan apabila ia mampu melakukannya dengan baik.

Jama’ah Rahimakumullah
                
Berbicara tentang kesucian fitrah, maka rangkain ibadah Ramadhan seyogyanya membuat kita meraih kesucian fitrahnya itu. Karena berbagai amaliyah kebaikan dapat membimbing dan mengarahkan para pelakunya memperoleh hasil yang positif. Ingatkah kita bahwa apapun ibadah yang dilakukan, sekecil apapun amaliyah tersebut  membuat kita semakin memiliki nilai-nilai terbaik dalam prilaku dan akhlaq. Lalu seandainya amaliyah tersebut tidak menjadikan kita semakin bertambah baik dalam prilaku dan akhlaq maka sesungguhnya hal itu semakin membuat kita semakin bertambah  jauh dari Allah SWT, naudzubillah min dzalik.
                
Karena itu agar memperoleh kesucian fitrah tersebut, maka beberapa hal yang bisa kita lakukan:

Pertama: Memperbaiki kembali hubungan kita dengan Allah
                
Sadarilah oleh kita bahwa tanpa kekuasaan dan kehendak dari Allah kita adalah bukan siapa-siapa. Apa sih yang kita banggakan dan sombongkan pada diri ini, kalo segala sesuatunya tak berarti apapun jika Allah tidak menurunkan kasih dan sayangnya kepada kita. Janganlah kita seperti fir’aun yang bangga dengan kekusaannya yang begitu hebat, sehingga karena karena kesombongannya menganggap dirinya Tuhan. Sekuat dan sehebat apapun manusia tak akan ia mampu menyaingi kekuasaan Allah.  Jadi sesungguhnya rasa sombong pada diri manusia akan membuat dirinya memiliki hubungan yang buruk dengan Allah SWT, bahkan ia menjadi pesaing Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik.
                
Memperbaiki hubungan dengan Allah adalah solusi terbaik jika kita menginginkan menjadi hamba yang kembali kepada fitrahnya. Menjalin hubungan dengan Allah itu adalah dengan senantiasa melakukan ibadah yang sesuai dengan ketentuan syariah. Dan memang Al Qur’an pun menyatakan bahwa diciptakannya manusia itu adalah untuk beribadah. Ingatalah bahwa Islam adalah agama yang sempurna, sehingga tidak mengangap bahwa ibadah itu hanya berkaitan dengan amaliyah ritual saja. Tetapi ibadah memiliki maknanya yang luas bahwa ia melingkupi segala sesuatu yang dilakukan semata-mata ditujukan kepada Allah maka itulah ibadah. 
                
Karenanya tidak bisa kita hanya melakukan  ibadah ritual saja dan meninggalkan ibadah  yang bukan ritual, ataupun sebaliknya. Ibadah itu adalah satu paket yang satunya melengkapi dengan yang lainnya.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
                
Inilah prinsip keseimbangan dalam Islam, tdiak dibenarkan lebih mengedepankan yang satunya dengan meminggirkan yang lainnya. Karenanya ibadah yang sempurna itulah yang akan memuat hubungannya dengan Allah akan terjalin secara harmonis.

Kedua : Memperbaiki hubungan dengan orang tua
                
Ridho Allah terletak pada ridho orang tua, kenapa keberkahan hidup itu tercerabut dari seseorang, karena boleh jadi ia tak pernah berharap ataupun meminta keridhoan dari orang tuanya. Keridhoan orang tua menjadi pembuka jalan agar keridhoan Allah bisa didapatkan. Berapa kali sih dalam seminggu kita menanyakan keadaan kabar orang tua, meskipun sekedar say hello, tapi ini adalah wujud sederhana perhatian kita terhadap orang tua. Coba kalau saja kita membayangkan bagaimana perhatiannya orang tua kepada kita, sejak dari kandungan sampai perjalanan hidup sebesar apapun mereka tak pernah mengendurkan kasih sayangnya kepada kita. Bahkan sampai kita punya anakpun mereka tak juga melepaskan kasih sayangnya dari kita dengan senantiasa memperhatikan anak kita. Meskipun kadangkala mereka siap jadi babu dalam tanda petik mengasuh anak kita karena kita sibuk bekerja. Pernahkan mereka meminta upah dari  apa yang mereka lakukan? Jawabannya jelas tidak, yang mereka harapkan adalah sekedar doa yang tulus agar Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada mereka. Masa sekedar doa saja kita tidak sanggup? Astaghfirullah hal ‘adziim.

Jama’ah Rahimakumullah

Ketiga : Memperbaiki hubungan dengan tetangga
                
Dalam hubungan sosial, tetangga adalah saudara terdekat kita. Jadi tanpa mereka hidup kita tak akan bisa berjalan mulus. Makanya Islam sangat menaruh perhatian terhadap tetangga, sampai Rasul pernah bersabda: seandainya Allah meperbolehkan, niscaya dalam hukum waris, tetangga adalah salah satu yang mendapatkannya.  Dalam hadits yang lain rasul bersumpah atas nama Allah dan hari akhir agar setiap kita menghormati tetangganya.
                
Dalam hadits yang lain, Rasul menyatakan bahwa akan dianggap sebagai orang mukmin apabila tetangganya aman dari lisan dan tangannya. Artinya ketika kita menyakit tetangga dengan lisan dan tangan kita maka tidakakan dianggap sebagai seorang mukmin. Naudzubillahi min dzalik.

Keempat: Memperbaiki hubungan dengan saudara, baik saudara sedarah atau saudara seagama
                
Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi. Rugi sekali seandainya hal itu terjadi pada diri kita. Gara-gara persoalan sepele membuat seseorang memutuskan hubungan dengan saudara yang lain. Abu bakar Ash Shidiq pernah ditegur oleh Allah karena bersumpah untuk tidak akan memberi bantuan kepada saudara-saudaranya yang telah memfitnah anaknya Aisyah istri dari rasulullah telah berbuat serong dalam peristiwa haditsul ifki alias berita bohong. Padahal jelas sekali saudara2nya telah berbuat kezaliman kepada diri dan anaknya, tetapi ketika Abu bakar bersumpah seperti itu, ternyata Allah menegurnya.
                
Jadi dalam Islam, meskipun  kesalahan yang dilakuan oleh orang lain kepada kita tidak lantas menjadi alasan kita untuk memutuskan silaturahim. Islam menginginkan bahwa kesucian fitrah seseorang berawal dari hatinya yang bersih. Meskipun kezoliman itu menimpa diri kita, maka bersabar dengan kezoliman tersebut itu adalah lebih utama.

Jama’ah Rahimakumullah
                
Dari paparan tersebut jelaslah buat kita, agar meraih kesucian fitrah itu tidaklah mudah, perlu usaha yang keras dan kesungguhan. Semoga Allah memudahkan langkah2 kita agar bisa merealisasikan hal-hal tersebut di atas agar kesucian fitrah bukan hanya sekedar dambaan tapi menjadi kenyataan.

--DOA--
                
Marilh kita berdoa kepada Allah SWT, kita tundukkan hati ini dan tengadahkan tangan ini. Bersihkan hati dengan keiikhlasan agar doa kita bisa menembut batas langit menuju Allah SWT. Kita awali dengan istigfar, dan rasakan bahwa istighfar itu merasuk ke hati dan persaan kita. Kita bayangkan betapa bergelimangnya kita dengan dosa karena sebab lisan yang tak terjaga, hati yang tak khusyu dan perbuatan yang menyimpang. 

Astaghfirullah 3x..alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qoyum wa atubu ilahi.

1 komentar: