Minggu, 31 Januari 2016

On 14.52.00 by PKS Lampung Selatan in    No comments

Kalianda - Ujian harta bagi orang beriman bukan pada pendistribusiannya, tapi lebih pada cara mendapatkannya. Banyak orang yang tidak keberatan menyalurkan hartanya di jalan kebaikan, seperti zakat, infaq, bersedekah, makaf, membangun masjid, menyantuni anak yatim, umroh, haji dan lainya. Tapi dalam mencari harta tidak banyak orang yang bisa menghindari korupsi, riswah (suap), riba, manipulasi, dusta, mengurangi timbangan dan sebagainya

Oleh karenanya Alloh SWT senantiasa memberikan ulasan yg panjang dan rinci tentang sistem ekonomi, seperti jual beli, pinjam meminjam, gadai, pencatatan transaksi, saksi dalam transaksi, 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu(282). Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang[180] (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (283). Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (284) (QS: Al-Baqarah 282-284)
sampai soal penerima warisan dan penerima zakat (mustahiq), Namun dalam urusan menyalurkan harta cukup dengan ayat - ayat yang pendek dan ringkas, seperti zakat, shodaqoh, memberi makan faqir miskin dan sebagainya.

Sejarah islam juga memcatat, betapa para sahabat muhajirin, begitu saja meninggalkan rumah, kendaraan, peternakan, tanah dan hartanya, untuk memenuhi panggilan Alloh SWT dan rosulnya. Demikian juga sahabat anshor dengan ikhlas membagi, asetnya rumah, perkebunan, harta, kepada saudaranya muhajirin.

Namun saat perang uhud berkecamuk, betapa persoalan perebutan ghonimah seolah-olah melupakan mereka dari Alloh SWT dan rosulnya, melalaikan mereka dari nilai ukhuwah, menjauhkan mereka dari dakwah. Sehingga perebutan harta itu hampir membinasakan mereka sendiri dan jamaah dakwah, jika bukan karena pertolongan Alloh SWT, Begitulah beratnya ujian dalam mencari harta, generasi terbaik sepanjang jamanpun tidak lepas dari jeratan ujian ini.

Hingga kita saat ini, karena tuntutan kebutuhan yang sudah di depan mata, untuk mendapatkannya juga tidak mudah. Akhirnya ini menjadi perangkap syaithon. menjauhkan kita dari tujuan dakwah.
Semoga kita dimudahkan mendapat rejeki yang berkah, dan mengokohkan kaki kita dibarisan dakwah. Wallohu’alam

Sumber : Ust Muhammad Taufik S.Sos

0 komentar:

Posting Komentar