Kamis, 28 Februari 2013

On 19.54.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments


Wakil Ketua DPRD Chaidir Ritonga : . . .Pak gatot sendiri baru tengah malam, setengah dua belas dapat saya persetujuan nya hari ini dilantik. Tiba - tiba Mendagri menyetujui hanya sepotong surat seperti itu padahal kami sudah menjelaskan itu surat tidak sesuai dengan tatib. Jadi menurut saya kenegarawan yang diarahkan Prof. Johermansyah Johan itu tidak konsisten kami lihat tadi didalam pembatalan. 

TV ONE : Apa langkah selanjutnya dari para pimipinan, wakil ketua DPRD?  

Wakil Ketua DPRD Chaidir Ritonga : Pertama Kami pulang ke Medan seperti arahanMendagri mengundang Pak Saleh Bangun sebagai ketua DPRD, lalu kita menjadwalkan ulang selain tentu meminta penjelasan beliau, ada apa? Apakah ada tekanan? Atau ada pihak - pihak lain yang membuat beliau terpaksa melayangkan surat itu? Karena itu tidaklazim, beliau biasanya kalau tidak rapat paling tidak telepon dulu kepada kita untuk membuat keputusan apalagi menandatangani surat sestrategis itu. Dimana sudah kita jelaskan 2 jam di ruangan pak Dirjen Otda tapi tetap kementerian memegang surat dari ketua DPRD. Pak mendagri bilang yang berlaku disini tata laksana administrasi formal meskipun kita sudah jelaskan ini bisa kita anulir dengan tiga pimpinan kolektif kolegial dari lima, dia meminta agar kita juga membuat surat. Kita tidak mungkin menyiapkan surat seketika hari ini juga kan karena semua administrasi ada di Medan. 

TV ONE : Mas Gatot anda merasa dirugikan dengan pembatalan pelantikan hari ini? 

Mas Gatot : Tadi dijelaskan oleh pak Khaidir, saya mengkonfirmasi waktu yang dimungkinkan setengah dua belas malam. Artinya bagi saya ini kan waktu yang sangat efektif untuk kami menyapa masyarakat sumatera utara, kami menyampaikan program visi dan misi sehingga kami tentu merasa rugi, praktis 24 jam hari ini kami tidak bisa menyapa masyarakat Sumatera Utara menyampaikan visi misi dalam rangka pemilihan Gubernur 7 Maret yang akan datang.

TV ONE : Ada langkah tertentu yang mungkin akan anda lakukan? 

Mas Gatot : Saya lebih melihat bahwa mudah-mudahan ini justru menjadi sebuah modaluntuk membuka mata masyarakat Sumatera Utara. Bagaimana proses perjalanan demokrasi yang kita berharap semakin baik kedepan dan tentu mudah-mudahan modal bagi saya untuk itu. 

TV ONE : Terakhir sudah ada kepastiaan kapan anda dilantik?

Mas Gatot : Sekali lagi, posisi kami adalah pengantin, besannya adalah kemendagri DPRDdan Pak Menteri. Tentu kami berharap segera ada kesepakatan antara besan berdua.  

TV ONE : Besannya sudah tau kapan akan dilantik pengantinnya?

Wakil Ketua DPRD Chaidir Ritonga: Kami tadi karena tuntutan daripada anggota dewan yang hadir yang sangat keras kami merencanakan menjadwal di hari senin tanggal 4, tapi tetap kami akan duduk lagi pimpinan dewan kemudian berkomunikasi dengan mendagri melalui Dirjen Otda kembali. karena memang semangatnya kan dari Dirjen Otda kan begitu, menyegarakan perintah. Inikan Perintah presiden, KePres ini kan perintah presiden kalaumemang lalu kemudian kita tidak menyegerakan, ada apa ini dengan praktek ketatanegaraan kita. 

TV ONE : Semoga ada apa ini bisa segera terjawab dan bisa kapan anda dilantik, bisatau tanggal nya kapan. jadi pengantinnya bisa naik kepelaminan.
On 19.50.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments

Jumat, 01 Maret 2013

Fatih | Kompasiana

“Sengsara membawa nikmat” adalah salah satu novel yang kemudian difilmkan dan menjadi legenda di Indonesia. Saya sendiri tidak pernah membaca novel yang ditulis tahun 1928 ini. Saya hanya pernah menonton mini serinya di TV. Itu pun waktu saya kecil tahun 90-an dan saya lupa alur ceritanya. Yang saya tahu, ending dari film tersebut adalah happy ending.

Salah satu yang menarik dari novel/film ini adalah judulnya. Ya, judulnya yang membawa kesan optimisme bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Sebagaimana tanah liat yang harus merasakan sakitnya tempaan dan panasnya bakaran api untuk menjadi gelas keramik yang cantik. Atau sebagaimana anakan pohon yang harus merasakan sakitnya dicabut sampai ke akarnya untuk bisa dipindahkan ke tempat yang membuat anak pohon itu bisa leluasa bertumbuh menjadi pohon yang lebih besar lagi.

Hal ini lah yang mungkin dialami PKS saat ini. Ujian yang menimpa PKS beberapa hari yang lalu, yang notabene terasa pahit bagi kader-kadernya, kalau diibaratkan pohon, kuncup-kuncup bunganya sudah mulai terlihat. Sebegitu cepatnya. Dari berita dan cerita yang sampai kepada kita, banyak masyarakat yang jadi ingin tahu lebih dalam (termasuk saya) pada partai ini. Masyarakat yang kritis mencoba untuk menganalisa berita sampai mereka menyimpulkan bahwa memang terjadi konspirasi pada partai ini. Simpati dan kasihan bermunculan terhadap partai yang terzolimi ini, bahkan dari orang yang sebelumnya antipati. Bahkan diantara mereka ada yang mendaftar sebagai anggota baru partai yang sering memberi kejutan ini.

Namun ternyata, ujian itu tidak hanya memunculkan satu jenis kuncup bunga saja (banyaknya simpati yang berdatangan), tapi juga semakin dikenalnya salah seorang kader terbaik di partai ini. Dia lah presiden PKS yang baru : Anis Matta.

Saya sendiri tidak pernah bertemu dengannya. Namun saya mencoba mencari referensi tentangnya dan dari pidato-pidatonya serta tulisan-tulisannya. Ketika pada orasi perdananya pasca dilantik menjadi presiden PKS, dia menyampaikan bahwa peristiwa yang menimpa PKS saat ini justru malah membangunkan macan yang tertidur. Macan-macan yang tertidur itu adalah para kadernya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang berada pada tataran grass-root. Dan Anis Matta lah raja macannya. Macan yang sebenarnya tidak tertidur, tapi sebagai bagian dari rencana besar partai, sang macan yang terjaga ini dikandangkan dulu sembari menunggu momen yang tepat. Namun ternyata sejarah tidak berjalan linier, menanggapi kejadian luar biasa yang menimpa PKS, sang macan terpaksa dikeluarkan dari kandangnya.

Dia langsung berbuat. Bahkan pada hari hari pertama dia dilantik menahkodai partai itu. Pidato perdananya yang sebenarnya ditujukan untuk menggetarkan dan menguatkan jiwa para kadernya, justru juga membuat masyarakat Indonesia yang menontonnya menjadi terharu, terpesona dan tercerahkan, bahkan tertarik untuk bergabung. Pada hari itu juga, dia mengumumkan untuk melepaskan jabatannya sebagai salah satu pimpinan DPR sekaligus keanggotaannya di DPR. Peristiwa yang jarang ditemukan di negeri ini (untuk saat ini).

Kunjungan ke Jawa Barat, Sumatera Utara, Jogjakarta, Jawa Timur, Makassar (-ed) dan Bali secara berturut-turut non stop dia lakukan di hari-hari berikutnya selepas pelantikannya, untuk menggelorakan semangat para kadernya. Pidato-pidatonya di lima (enam -ed) provinsi itu, yang kemudian diupload di Youtube oleh para netter, adalah pidato motivasi yang menggugah dan mengubah. Sangat jarang ada pidato politik yang memotivasi tapi juga tetap berisi. Hal ini memang karena dulu, jauh sebelum dia berpartai, dia sering mengisi training motivasi. Dia sudah menjadi trainer & motivator jauh sebelum profesi ini menjadi booming seperti yang terjadi sekarang ini. Dia sudah lebih dulu mendahului zamannya.

Dia “hanya” lulusan setara S1 dari jurusan syari’ah LIPIA. Namun kecerdasan dan keluasan ilmunya patut diacungi jempol. Dia pernah menjadi dosen di fakultas ekonomi UI. Dan dia sering mengisi seminar berbagai tema baik di dalam maupun luar negeri. Kegiatan ini lebih banyak dia lakoni sebelum dia berpartai. Maka saya pribadi merasakan sendiri ruh tulisannya, ketika ia menuliskan di bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, bahwa ketika harus memilih diantara satu, maka pilihlah keberanian tanpa senjata di medan perang, atau, kecerdasan tanpa pendidikan formal di medan pengetahuan, katanya. Setelah lulus dari LIPIA, sebenarnya dia sudah mengantongi beasiswa S2 di luar negeri. Namun melalui istikhorohnya, beasiswa itu tidak dia ambil. Ada hal yang lebih besar yang harus dia lakukan daripada “sekedar” kuliah S2 pikirnya waktu itu.

Namun Anis Matta tetaplah Anis Matta yang cerdas. Bahkan dari sini kita jadi tahu bahwa kecerdasan logikanya tidak mampu mengalahkan kecerdasan hatinya. Salah seorang dosennya di LIPIA pernah berujar bahwa seandainya ada nilai yang lebih tinggi dari A+, maka nilai itu akan aku berikan untuk Anis. Dia pun sempat mengikuti pelatihan di LEMHANAS dan menjadi lulusan terbaik. Malahan setelah itu dia pun didaulat menjadi pengajar para jenderal di lembaga itu.

Kecerdasan dan keluasan wawasannya ini adalah anugerah tuhan yang tumbuh subur pada diri Anis. Karena Anis memiliki pupuk yang baik berupa kekuatan tekad dan kebiasaan membaca yang dahsyat. Bahkan waktu liburan pada masa sekolahnya dulu, dia isi dengan membaca buku. Bayangkan saja, setelah dikurangi dengan kegiatan pokok: tidur malam, shalat lima waktu, makan dan MCK, selebihnya adalah membaca buku seharian semalaman. Dan itu dia lakukan sepanjang hari liburnya. Saya jadi teringat petuah motivator dunia, Jim Rhon: “The leader is a reader”.

Ketika dalam salah satu pelatihan Anis Matta tentang pengembangan diri, Anis Matta menjelaskan tentang potensi otak manusia yang dahsyat. Bahwa dalam otak manusia bisa diibaratkan ada berbagai macam kamar. Setiap kamar merupakan tema yang berbeda. Sehingga ketika kita mempelajari suatu materi/tema tertentu kita mengaktifkan kamar tertentu di otak kita. Ketika kita merasa lelah, sebenarnya yang lelah itu hanya bagian kamar yang sedang aktif itu saja, namun kita bisa mengistirahatkan kamar itu sambil mempelajari tema lain yang artinya kita mengaktifkan kamar yang baru.

Itulah sebabnya, katanya, mengapa dalam sejarah Islam banyak sekali ditemukan para ulama yang multitalented, yang menguasai ilmu agama, sejarah, geografi, kedokteran, sastra, matematika, kimia, politik, dan sebagainya sekaligus. Inilah juga yang mungkin diterapkan Anis pada dirinya. Bahwa menjadi spesialis dengan ilmu yang mendalam pada suatu bidang tertentu itu penting, tetapi juga menjadi generalis yang mengerti terhadap berbagai persoalan itu juga bukan suatu hal yang mustahil. Dan inilah yang diharapkan oleh Anis untuk dirinya dan para kadernya. Karena menurutnya, kualitas seperti inilah yang harus ada pada seorang pemimpin. Pemimpin besar adalah orang yang memiliki kualitas yang prima pada tiga dimensi manusia sekaligus: Jasadiyah (Fisiknya), Aqliyah (Otaknya), dan Ruhiyah (Jiwanya).

Pemikiran negarawan muda ini sangat brilian. Diantara salah satu gagasannya adalah tidak ada pemisahan antara urusan agama dan urusan negara. Belakangan saya jadi sadar, ternyata dasar-dasar syari’ah yang kuat yang pernah dia pelajari semasa kuliah, menjadi semacam kelebihan tersendiri baginya untuk berkreasi namun tidak melanggar norma. Hal ini dibuktikan dengan jujur apa adanya oleh dirinya dan rekan-rekannya dengan mendirikan sebuah partai yang berasaskan Islam. Asas yang menjadi spirit dan sumber motivasi hakiki baginya dan seluruh kader-kadernya untuk memajukan negeri Indonesia.

Bahwa katanya, antara Pancasila dan Islam tidak relevan lagi untuk dipertentangkan, karena memang tidak ada dalam Pancasila yang bertentangan dengan Islam. Ketika hal ini dijelaskan kepada para jenderal yang notabene sangat menjaga sekali dengan Pancasila, maka para jenderal itu pun menjadi mengerti, “Iya ya, ternyata memang tidak ada pertentangan antara Pancasila dengan Islam, kenapa dulu kita harus saling menumpahkan darah sesama bangsa sendiri”.

Namun kemudian sang jenderal bertanya, “Kalau memang tidak ada pertentangan antara Pancasila dengan Islam, lalu mengapa anda tidak menjadikan Pancasila saja sebagai asas partai Anda?”. 'Sang Macan' menjawab dengan cerdas, “Kita tentu sama-sama tahu bahwa kita pasti mati meninggalkan dunia ini. Dan kami yakin setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan lain yang abadi. Kami ingin di kehidupan yang abadi itu, kami hidup dengan nyaman. Dan kami ingin ada jaminan, bahwa perjuangan kami untuk memajukan negeri ini dibalas dengan kenyamanan hidup di kehidupan yang abadi itu. Itulah sebabnya kami menjadikan Islam sebagai asas kami agar menjadi jaminan dan sumber motivasi kami bahwa kerja keras kami membangun negeri ini berbalas syurga-Nya”. Sebuah sumber motivasi, yang membuat para kadernya senantiasa ikhlas berkorban untuk kemajuan negeri ini.

Entah mengapa, saya mempunyai firasat, suatu saat nanti, orang ini akan menjadi pemimpin bangsa yang besar ini: I N D O N E S I A.

*http://politik.kompasiana.com/2013/02/15/anis-matta-sang-macan-yang-terjaga-534577.html
On 19.48.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments



Sayyid Qutb menyatakan dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an, bahwa satu-satunya surah yang Allah turunkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa sulit dalam sejarah dakwah dan kehidupannya, adalah surah Yusuf. Surah ini diturunkan antara ‘amul huzni (tahun duka cita karena kematian Abu Thalib dan Khadijah) dan antara baiat Aqabah pertama yang dilanjutkan dengan Baiat Aqabah kedua. Pada saat itu selain mengalami kesedihan karena ditinggal dua orang yang menjadi sandarannya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami kesedihan akibat pengasingan dan keterputusan hubungan di tengah-tengah masyarakat Quraisy.

Maka Allah menceritakan kepada Nabi-Nya yang mulia ini kisah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, yang juga mengalami berbagai macam ujian dan cobaan. Yaitu ujian berupa tipu daya dari saudara-saudaranya, dimasukkan ke dalam sumur dengan penuh rasa takut. Kemudian menjadi budak yang diperjual belikan dari satu tangan ke tangan yang lain, dengan tidak ada perlindungan dari orang tua dan keluarganya. Setelah itu ia diuji dengan tipu daya dari istri penguasa Mesir. Selanjutnya ia diuji dengan dimasukkan ke dalam penjara setelah sebelumnya hidup dalam kelapangan dan kemewahan di istana sang penguasa.

Setelah diuji dengan kepahitan, berikutnya Yusuf diuji dengan kemakmuran dan kekuasaan yang mutlak ditangannya, mengatur urusan pangan dan perekonomian masyarakat. Akhirnya ia diuji berupa rasa kemanusiaan dalam menghadapi saudara-saudaranya yang dahulu telah memasukkannya ke dalam sumur dan merekalah yang menjadi sebab bagi ujian-ujian dan penderitaan dalam hidupnya.

Semua ujian dan cobaan itu dihadapi Yusuf dengan sabar sambil terus mendakwahkan Islam dari celah-celahnya. Pada akhirnya ia dapat lepas dari semua ujian dan cobaan itu.

Surah ini, kata Sayyid Qutb, bertujuan untuk menyenangkan, menghibur, dan menenangkan serta memantapkan hati orang terusir, terisolir, dan menderita, yakni Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Didalamnya diisyaratkan tentang berlakunya sunnah Allah ketika para rasul sudah merasa putus asa menghadapi kaumnya, bahwa akan ada jalan keluar yang membawa kepada kegembiraan yang didambakan setelah sekian lama mengalami ujian dan cobaan.[1]

Ahsanul Qasasi

Surah Yusuf disebut oleh Allah Ta’ala sebagai ahsanul qasasi (kisah yang paling baik),  karena di dalamnya banyak mengandung ‘ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf, 12: 111).

Secara khusus surah ini pun menjadi bekalan yang sangat berharga bagi harakah Islamiyah di masa kini untuk menyiapkan kesabaran di atas kesabaran dalam mengarungi kehidupan, terlebih lagi dalam mengarungi kehidupan perjuangan di jalan Allah.

8 Pelajaran
 
Sedikitnya ada delapan pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari surah Yusuf ini,

Pertama, pelajaran tentang perlunya mewaspadai kaum pendengki dengan cara merahasiakan berita yang mungkin dapat mengusik mereka.

Ucapan Ya’qub kepada Yusuf yang dimuat dalam ayat 4 – 5 menggambarkan hal ini:

(Ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Ya’qub mengkhawatirkan Yusuf akan menceritakan mimpinya kepada salah seorang saudaranya, padahal mimpi itu dapat menimbulkan kedengkian diantara mereka, karena takwil mimpi itu menggambarkan ketundukan, penghormatan, pengagungan, dan pemuliaan mereka kepada Yusuf dengan berlebihan hingga mereka tersungkur sambil bersujud.

Ayat ini memberikan pelajaran kepada harakah Islamiyah untuk berhati-hati dalam menyampaikan materi dakwah. Tidak semua berita harus diberitakan segera. Tidak semua ilmu harus disampaikan segera. Adakalanya berita-berita harus ‘disembunyikan’ untuk menghindarkan diri dan jama’ah dari kemudharatan yang mungkin timbul. Apalagi kaum pendengki senantiasa mencari celah untuk menghantam dan melemahkan harakah Islamiyah.

Islam bahkan mengajarkan, kadang-kadang bukan hanya ‘berita buruk’ saja yang harus disembunyikan, tetapi juga ‘berita baik’.

Masih ingat kisah Abu Hurairah dan sandal Rasulullah? Perhatikanlah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini:

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sandal beliau kepada Abu Hurairah seraya berkata, “Hai Abu Hurairah, pergilah kamu, bawa sandalku ini. Lalu, siapa saja yang kamu temui di balik tembok ini,  yang telah menyatakan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya, dia akan masuk surga.”

Maka yang pertama-tama ditemui Abu Hurairah ialah Umar bin Khattab. Dia bertanya, “Apa maksud sepasang sandal ini, Hai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Ini sandal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyuruh aku membawanya (dengan pesan), siapa saja yang aku temui telah menyatakan, bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka aku beri kabar gembira, dia bakal masuk surga.”

Mendengar hal itu, tiba-tiba Umar menghantamkan tangannya ke dada Abu Hurairah sampai ia jatuh terduduk, seraya berkata, “Kembali, hai Abu Hurairah!”. Maka Abu Hurairah pun kembali menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam setengah menangis, sementara Umar membuntutinya.

“Kenapa kamu hai Abu Hurairah?” Tanya Rasul kepada Abu Hurairah. Ia menjawab, “Saya bertemu Umar, lalu saya beritahu dia apa yang telah tuan perintahkan kepadaku, tapi tiba-tiba dia memukul dadaku sampai aku jatuh terduduk, seraya menyuruh aku kembali.”

“Hai Umar,” Rasul bertanya kepada Umar, “Kenapa kamu melakukan seperti ini?”

Umar menjawab, “Ya Rasulullah, aku tebus engkau dengan ayah bundaku, benarkah engkau menyuruh Abu Hurairah membawa sandalmu (dengan berpesan), barangsiapa yang dia temui telah menyatakan tiada Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka dia beri kabar gembira bakal masuk surga?”

“Benar,” jawab Rasul. Maka Umar menyarankan, “Jangan lakukan itu. Karena saya benar-benar khawatir orang-orang akan mengandalkan kata-kata itu saja. Sebaiknya, biarkanlah mereka beramal.” Akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kalau begitu, biarkan mereka.”

Dari hadits ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa realita pemahaman masyarakat kadang-kadang mengharuskan kita untuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan tahapan ini atau itu dalam berdakwah.

Kita hendaknya menyampaikan dakwah hanya kepada orang yang telah siap mendengarkan dan menghargainya serta memahami di mana posisi dari perkara yang diserukan dalam Islam secara keseluruhan.

Sudah seharusnya pula kita menyampaikan dakwah pada saat yang tepat, pada tempat dan kerangka yang bisa memperjelas hakekat dan arti sebenarnya dari perkara yang diserukan tersebut, serta dapat menghilangkan keraguan yang mungkin terjadi. Jangan sampai dakwah menimbulkan kesalahfahaman orang terhadap sistem Islam, karena ada masalah-masalah yang baru bisa difahami setelah memahami dulu masalah-masalah lainnya.

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui pandangan Umar untuk mencegah tersebarnya kabar gembira seperti di atas di kalangan orang banyak saat itu. Meskipun akhirnya Abu Hurairah menyampaikan juga hadits ini, tentu saja ketika dia tahu telah tiba saatnya yang tepat bagi kaum muslimin untuk memahaminya secara tuntas.[2]

Kembali lagi pada masalah kewaspadaan terhadap kaum pendengki, dalam ayat ini pun di isyaratkan bahwa kaum pendengki itu tidak selalu berasal dari kalangan eksternal, tapi mungkin juga datang dari kalangan internal.

Walaupun memiliki hubungan darah, saudara-saudara Yusuf ternyata merasa cemburu, iri, dan dengki, sehingga tega merencanakan makar dengan didasari kepentingan yang sama. Mereka merekayasa tipu daya, kebohongan, bersandiwara, dan mengajukan bukti-bukti palsu demi untuk memuaskan kedengkian mereka kepada Yusuf. Bahkan saking dengkinya, diantara saudara-saudara Yusuf ada yang mengusulkan upaya pembunuhan terhadap Yusuf. (lihat: surah Yusuf ayat 8 – 18).

Kedua, pelajaran tentang pentingnya menghadirkan kesabaran dalam menghadapi makar musuh.

Di jalan dakwah ini, seorang aktivis harus memiliki kesiapan mental untuk menghadapi makar para pendengki dan musuh dakwah. Karena makar itu adakalanya mencoreng kehormatan dan menjadikan mereka terhina. Namun yakinilah, selama mereka ikhlash dalam melangkah, Allah Ta’ala akan senantiasa membimbing dan menolongnya. Apalagi cobaan itu hanyalah untuk sementara waktu saja sifatnya.

Kisah dalam surah Yusuf mengajarkan bahwa harus ada kesabaran di atas kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan. Yusuf setelah dimasukkan ke dalam sumur dan dipungut oleh kafilah dagang, dijadikan budak belian yang begitu terhina. Bahkan di ayat 20 disebutkan, beliau dijual dengan harga yang murah,

“Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.”

Sesungguhnya kesabaran itu akan menggiring kita pada kebangkitan. Makar para pendengki kadang menjadi kesempatan bagi para da’i untuk mengkonsolidasikan kekuatan. Ia menjadi wahana tarbiyah rabbaniyyah dalam rangka mematangkan kesiapannya mengarungi medan yang lebih luas.

Lihatlah Yusuf, karena kesabarannya kemudian Allah menyiapkan untuknya seorang pembeli dari Mesir yang akan memperhatikan dan memuliakannya. Yusuf ditempatkan oleh Allah di negeri Mesir lalu dikuatkanlah ia dengan hikmah dan ilmu, “…dan agar kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf, 12: 22).

Tentang ayat ini Sayyid Qutb berkata, “Inilah Yusuf! Saudara-saudaranya menghendaki sesuatu terhadapnya, tetapi Allah menghendaki sesuatu yang lain untuknya. Karena Allah itu berkuasa atas segala urusan-Nya. Sedangkan saudara-saudara Yusuf, mereka tidak berkuasa atas urusan mereka sehingga Yusuf dapat lepas dari tangan mereka dan bebas dari apa yang mereka kehendaki terhadapnya…”

Jadi, makar kaum pendengki kadang malah jadi penghantar menuju kemenangan dan kemuliaan dari Allah. Makar yang mereka rencanakan dijadikan jalan oleh Allah untuk menggenapkan rencana-rencana-Nya.

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml, 27: 50)

Allahu Akbar wa lillahil hamd!

Ketiga, pelajaran tentang kesadaran akan keniscayaan ujian yang akan datang silih berganti.

Karena ujian adalah sunnatullah yang pasti berlaku dan tidak mungkin dihindari.

Di jalan dakwah ini para da’i pasti mengalami ujian berupa hambatan, rintangan, dan godaan. Semuanya akan datang berturut-turut silih berganti. Yusufpun mengalami hal itu. Setelah sejenak bernafas lega dapat tinggal di istana, datanglah godaan menghampirinya: godaan wanita!

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS. Yusuf, 12: 23 – 24)

Namun dengan bekal keimanan, Yusuf mampu menghindarkan dirinya dari perbuatan tercela itu. Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Yusuf. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.

Potongan ayat ini menamkan pelajaran yang berharga kepada para pengemban dakwah, bahwa mereka harus selalu waspada pada setiap godaan dunia. Mereka harus selalu memperkuat sikap ihsan. Jangan sampai mengalami disorientasi dalam kehidupan. Dengan demikian mereka perlu melakukan tazkiyatu nafs secara berkesinambungan agar tidak mudah tergoda dunia.

Penolakan Yusuf tersebut ternyata berbuntut panjang. Wanita penggoda Yusuf itu menimpakan kecelakaan berikutnya dengan melemparkan tuduhan keji kepadanya. Jadilah Yusuf tertuduh.

“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: ‘Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?’ (QS. Yusuf, 12: 25)

Inilah konsekwensi sikap konsisten pada kebenaran. Bersiaplah dengan fitnah-fitnah yang akan datang. Bersabarlah. Bertahanlah dalam kebenaran. Allah pasti menolong hambanya yang berpegang teguh pada kebenaran dalam situasi sesempit apa pun.

Lihatlah Yusuf, dalam keadaan terpojok dengan tuduhan keji dan berusaha membela diri, ternyata Allah berkenan membelanya dengan cara mendatangkan orang-orang yang adil dan bersikap objektif. Bahkan orang yang menjadi pembela tersebut berasal dari lingkungan keluarga wanita penuduh itu sendiri.

“Yusuf berkata: ‘Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)’, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: ‘Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, Maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. Yusuf, 12: 26-27).

Yusuf kemudian diminta merahasiakan kejadian yang memalukan itu (lihat: ayat 29). Tetapi tetap saja berita itu tersebar luas di masyarakat. Meskipun ia tidak bersalah, namun gosip itu tetap saja membuatnya tidak nyaman.

“Dan wanita-wanita di kota berkata: ‘Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.’ (QS. Yusuf, 12: 30).

Gosip-gosip tidak sedap adalah bentuk lain dari ujian dan cobaan. Setiap da’i harus menghadapinya dengan sabar. Kadang ada segelintir orang yang merekayasa gosip-gosip tidak sedap itu, bahkan sampai pada upaya pemutarbalikan fakta. Inilah yang terjadi kepada Yusuf.

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.” (QS. Yusuf, 12: 35)

Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata, “Mereka memenjarakannya (Yusuf) setelah tersiar berita yang mengesankan seolah-olah Yusuflah yang merayu istri Al-Aziz.”

Begitulah, ujian datang bertubi-tubi. Yusuf kemudian dipenjara, meskipun ia tidak bersalah. Ruang geraknya dibatasi demi melindungi aib istri pejabat yang tengah terpikat dan bergelora cintanya. Yusuf tetap bersabar. Di satu sisi ia pun bersyukur karena Allah telah mengabulkan do’anya,

“Wahai Tuhanku, penjara lebih Aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu Aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah Aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 12: 33).

Ya, penjara baginya lebih baik daripada terganggu oleh godaan wanita yang tetap bernafsu untuk menundukkannya (lihat: ayat 32).

Keempat, pelajaran tentang dakwah yang tidak kenal henti.

Dalam situasi sesulit apa pun, dan kondisi yang sempit, dakwah tetap harus dikobarkan.

Bersama Yusuf masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Keduanya meminta kepada Yusuf  untuk mentakwilkan mimpi mereka, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.” dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” Dua orang pemuda itu adalah pelayan-pelayan raja; seorang pelayan yang mengurusi minuman raja dan yang seorang lagi tukang buat roti.

Perhatikanlah bagaimana Yusuf memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan dakwahnya,

“Yusuf berkata: ‘Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.

Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa

Apa yang kamu sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf, 12: 37- 40).

Ayat ini menggambarkan kepiawaian Yusuf dalam berkomunikasi. Sayyid Qutb berkata, “Tampak sekali metode pembicaraan Yusuf yang halus dalam memasuki jiwa orang tersebut. Tampak pula kecerdasan dan kecerdikannya di dalam mengungkapkan kalimat yang halus dan lembut.”

Mula-mula Yusuf menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa dia akan mentakwilkan mimpi mereka. Karena Tuhannya telah mengajarinya ilmu. Namun dengan kepiawaiannya Yusuf mulai menggiring pembicaraan untuk mengenalkan ajaran tauhid yang diyakininya. Setelah seruannya selesai, barulah ia menjelaskan takwil mimpi yang diminta kedua temannya itu.

Sayyid Qutb kembali berkomentar, “Ini merupakan cara masuk yang halus…selangkah demi selangkah…penuh kehati-hatian dan lemah lembut…Kemudian ditanamkan ke dalam hati mereka lebih banyak dan lebih banyak lagi. Dan dijelaskanlah kepada mereka akidahnya dengan sejelas-jelasnya, Disingkapkannya kerusakan akidah mereka dan kaum mereka, serta keburukan realitas kehidupan yang mereka jalani…”

Kisah Yusuf di atas mengajarkan kepada para da’i, bahwa dalam kondisi apa pun dakwah harus tetap dijalankan. Tak kenal henti.  Ayat-ayat di atas mengisyaratkan pula bahwa para da’i harus memiliki visi yang jelas dalam dakwahnya; memiliki target dan memahami prioritas dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan para mad’u.

Ditegaskan di dalam kisah ini bahwa prioritas dakwah adalah seruan kepada tauhid. Kisah Yusuf mengajarkan kepada para da’i untuk tidak terjebak atau membatasi diri  pada hal-hal populis dalam seruan dakwahnya, sementara lupa pada misi utama yang diembannya.

Satu hal lagi yang diajarkan dalam ayat-ayat ini, bahwa upaya-upaya untuk keluar dari kesempitan harus terus dilakukan. Yusuf melakukan hal itu dengan meminta kepada temannya untuk menyampaikan hal dirinya kepada Raja Mesir. Hal ini diharapkan dapat menjadi jalan kebebasannya.

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: ‘Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.’ Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (QS. Yusuf, 12: 42).

Kelima, pelajaran tentang pentingnya para da’i memiliki keunggulan ilmu.

Keunggulan ilmu, mutlak dibutuhkan oleh para da’i. Dengan keunggulan itu mereka dapat memberi dan menawarkan solusi kepada umat. Begitulah kisah Yusuf mengajarkan kepada kita. Saat Raja dibingungkan oleh mimpinya yang aneh Yusuf kemudian mampu menjelaskannya. Ia dapat memprediksi masalah-masalah yang akan menimpa masyarakat dan sekaligus mampu memberikan solusinya (lihat: ayat 43 – 49).

Ayat-ayat ini harus menjadi renungan bagi para da’i masa kini. Sudahkah mereka mampu memberi dan menawarkan solusi pada masyarakat?

Harus difahami bahwa pekerjaan da’i hendaknya tidak hanya terbatas pada urusan perbaikan akidah dan ibadah. Kontribusi mereka hendaknya tidak terbatas pada urusan moral semata. Di dalam kisah ini Allah menyampaikan pesan, bahwa seorang da’i pun harus mampu berbicara tentang ‘masalah dunia’ yang ada dalam realita masyarakat.

Oleh karena itu jama’ah dakwah hari ini, harus mampu menghimpun bibit unggul, menyiapkan iron stock, sebagai upaya turut serta dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Keenam, pelajaran tentang perlunya melakukan upaya rehabilitasi citra dakwah.

Ayat 50 – 53 surah ini menginformasikan bagaimana upaya Yusuf merahabilitasi nama baiknya. Ia telah digosipkan melakukan rayuan kepada majikannya untuk berbuat serong sehingga ia dipenjara. Saat Raja memanggilnya menghadap, Yusuf menolak, ia meminta terlebih dahulu agar Raja melakukan penyelidikan terhadap kasus yang dituduhkan kepadanya. Dengan upayanya itu, tersingkaplah kebenaran. Nama baiknya kembali pulih. Wanita penggoda Yusuf mengakui kesalahannya.

Sikap Yusuf seperti itu dipuji oleh Rasaulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hal itu menunjukkan keutamaan dan kesabaran Yusuf. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كُنْتُ أَنَا لأَسْرَعْتُ الإِجَابَةَ, وَمَا ابْتَغَيْتُ العُذْرَ (رواه احمد)

“Jika yang dipenjara itu aku, niscaya aku akan bergegas memenuhi ajakan utusan itu dan tidak akan meminta alasan.” (HR. Ahmad).[3]

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah perlunya para da’i mengupayakan rehabilitasi atas citra buruk yang disematkan musuh-musuh kepada dirinya dan dakwah. Mereka harus berupaya menutup celah-celah yang mungkin dimanfaatkan oleh para pendengki di kemudian hari.

Citra yang baik sangat dibutuhkan dalam dakwah. Karena ia dapat melahirkan kepercayaan dan dukungan.

Ketujuh, pelajaran tentang kesiapan para da’i berkontribusi dan memikul tanggung jawab kenegaraan.

Saat Raja meminta Yusuf untuk membantu pemerintahannya, Yusuf menawarkan diri untuk mengisi jabatan bendaharawan negara. Hal ini disebutkan dalam ayat 54 – 55,

“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku’. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami’.

Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan’.

Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Yusuf hanya meminta jabatan yang diyakininya dapat mengatasi krisis di masa depan. Jabatan yang diyakininya akan melindungi orang-orang dari kematian, melindungi negara dari kehancuran dan kelaparan.

Yusuf tidak meminta kedudukan demi kepentingan diri sendiri, sesungguhnya tugas mencukupi kebutuhan makanan suatu bangsa yang dilanda kelaparan selama tujuh tahun berturut-turut, tidak seorang pun mengatakannya sebagai keberuntungan. Sesungguhnya tugas ini merupakan beban yang dihindari oleh setiap orang.[4]

Point ketujuh ini memperkuat apa yang sudah dijelaskan sebelumnya pada point kelima, bahwa para da’i harus memiliki keunggulan ilmu, dengan begitu ia akan mampu memberikan kontribusi dan siap memikul tanggung jawab (qudratu ‘ala tahammul) demi kemaslahatan masyarakat.

Ayat ini mengisyaratkan sekali lagi kepada para da’i, hendaknya mereka mempersiapkan diri dan tidak segan menjadi pengelola negeri. Mengemban tugas negara untuk memberikan kebaikan kepada masyarakat secara luas, tanpa melihat latar belakang mereka, apa pun suku, agama, dan ras mereka. Karena tugas kita adalah beramal saleh, menebarkan seruan Islam, dan mewujudkan rahmatan lil ‘alamin. Allah tidak menuntut kita untuk berhasil secara total mengislamkan masyarakat seluruhnya, walaupun itu harus kita upayakan dengan keras. Urusan hidayah adalah urusan Allah semata.

Itulah yang dilakukan Yusuf di negeri Mesir. Ia berkontribusi, beramal, dan berusaha menyelamatkan masyarakat dari kelaparan; menyelamatkan negara dari kehancuran. Agama raja dan masyarakatnya yang jauh dari tauhid, tidak menghalanginya untuk menebarkan kebaikan. Tentu saja dengan kekuasaannya, Yusuf terus berusaha menyeru masyarakatnya kepada tauhid, tetapi sekali lagi, urusan hidayah adalah urusan Allah. Al-Qur’an bahkan menyebutkan bahwa Yusuf ‘gagal’ menjadikan masyarakatnya menjadi masyarakat Islam secara menyeluruh.

Allah mengungkapkan hal ini dengan firman-Nya,

“Dan sesungguhnya Telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: ‘Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya.’ Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (QS. Mu’min, 40: 34)

Ini adalah kalimat yang disampaikan anak paman Fir’aun yang beriman kepada Nabi Musa. Ia menyatakan ini untuk mengingatkan Fir’aun tentang ajaran tauhid yang pernah diserukan di negeri Mesir dahulu kala.[5]

Jadi, Yusuf  telah mengajak mereka beriman dan memberikan bukti-bukti kerasulannya yaitu ajaran-ajaran tentang iman kepada Allah dan berbuat baik, serta mu’jizat-mu’jizat yang diberikan Allah kepadanya. Akan tetapi mereka tetap tidak mau percaya kepadanya. Mereka hanya mematuhinya sebagai seorang menteri atau pembesar negara.[6]

Kenyataan seperti ini menjadi penegasan kepada para da’i bahwa mereka berdakwah semata-mata karena Allah. Mereka berkontribusi dan berbuat kebaikan kepada negara semata-mata karena ibadah kepada-Nya. Jihad siyasi yang dilakukan saat ini adalah sebuah ikhtiar agar mereka mampu beramal lebih banyak dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin.

Kedelapan, pelajaran tentang keharusan berbuat baik dan memaafkan kesalahan kaum pendengki.

Ayat 58 – 101 surah ini mengisahkan episode terakhir kisah Yusuf. Bagaimana Yusuf setelah diberikan kedudukan yang mulia mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Bahkan ia tidak hanya memberikan manfaat kepada rakyat Mesir saja, akan tetapi meluas sampai ke negeri-negeri di sekitarnya.

Disini diceritakan bahwa saudara-saudara Yusuf dari negeri tetangga datang memohon pertolongan. Disinilah Yusuf diuji kembali kesabarannya. Apakah ia tetap sabar atau melampiaskan kemarahannya atas perilaku zalim saudara-saudaranya itu sebelumnya?

Yusuf ternyata memilih untuk bersabar, berbuat baik, dan memaafkan saudara-saudaranya itu.

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”. (QS. Yusuf, 12: 92).

Begitulah seharusnya seorang mu’min. Begitulah seharusnya para pengemban dakwah bersikap. Kelak ketika mereka diberikan kemuliaan oleh Allah, memiliki kekuasaan dan kehormatan, ia mampu tetap berbuat baik dan memaafkan orang-orang yang pernah mendengki dan mencelakakannya.

Itu pula yang dilakukan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam saat melakukan fathu Makkah. Beliau berseru kepada orang-orang Quraisy, “Wahai orang-orang Quraisy, menurut kalian, bagaimana tindakanku terhadap kalian?” Mereka menjawab, “Kebaikan. Saudara yang mulia. Keponakan yang mulia.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah kalian. Sekarang kalian adalah orang-orang yang merdeka.”[7]

Terakhir, marilah kita renungkan do’a yang dipanjatkan Yusuf kepada Tuhannya,

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf, 12: 101)

Demikianlah diantara mutiara-mutiara hikmah yang dapat digali dari kisah yang terbaik ini. Semoga Allah mencurahkan hidayah dan bimbingan kepada kita semua dalam mengarungi jalan dakwah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin…



Daftar Bacaan

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid II, Gema Insani Press.

Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Jilid VI, Sayyid Qutb, Gema Insani Press.

Al-Qur’anul Karim Wa Tafsiruhu, Jilid VIII, Kementerian Agama RI.

Fikih Sirah, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, Hikmah.

Fikih Harakah, Jamal Sulthon, Cahaya Press.


____________________
[1] Lihat terjemah Fi Zhilalil Qur’an, Gema Insani Press, jilid 6 hal. 301 – 303.

[2] Lihat: Fikih Harakah, Jamal Sulthon, Hal. 91 – 93, Cahaya Press.

[3] Lihat: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, Gema Insani Press, hal. 862

[4] Lihat: Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid VI, Gema Insani Press,  hal. 366-367

[5] Para ulama berbeda pendapat tentang nama anak paman Fir’aun ini. Al-Khazin dan An-Nasafi menyebutnya bernama Sam’an atau Habib, sementara ada yang menyebutnya bernama Kharbil atau Hazbil. (lihat: Al-Qur’anul Karim Wa Tafsiruhu, Jilid VIII, hal. 530).

[6] Lihat: Al-Qur’anul Karim Wa Tafsiruhu, Jilid VIII, hal. 536.

[7] Lihat: Fikih Sirah, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, Hikmah, hal. 477.


*http://www.al-intima.com/sirah/delapan-pelajaran-dakwah-dari-kisah-yusuf

Rabu, 27 Februari 2013

On 01.58.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments










ganteng centre
@gantengcentre 



  1. Berhubung senin tanggal  18 Februari - 03 Maret 2013 akan berlangsung Kampanye PilGub Sumut, kami  akan buat kultwit dengan hashtag  #Gatot5Erry

  2. Tweeps, berikut kmi akan sampaikan program2 dan prestasi Gatot Pujo Nugroho selama kepemimpinannya di  Sumut.

  3. Setelah 30 thn Jepang menguasai 58 % saham, akhirnya pengambilalihan kepemilikan saham PT Inalum ditandatangani oleh Gubernur Gatot Pujo Nugroho.http://p.ost.im/p/du6Lg7

  4. Jumlah asuransi nelayan di 2011 sebanyak 50 nelayan meningkat di 2012 sebanyak 1.172 nelayan, serta di 2013 mencapai seribu orang. http://p.ost.im/p/dmbjuV

  5. Pengembangan Batik Sumatera Utara hingga dikenal di dalam maupun luar daerah sehingga menembus pasar Internasional. http://p.ost.im/p/dm9vXg

  6. Untuk meningkatkan produktivitas para petani, Gatot mnyerahkn bantuan 60 hand traktor dan 100 ton bibit padi unggul kpd kelompok tani d Simalungun http://p.ost.im/p/dm37mK

  7. Anggaran kesehatan naik Lebih 100%: Tahun 2012  sebesar Rp 30 milyar, meningkat menjadi Rp 66 milyar ditahun 2013 ini. http://p.ost.im/p/dm4rrB

  8. Sejak Agustus 2011 dikeluarkan kebijakan menghapus buah impor sebagai sajian seremoni, dan mengganti snack dgn bahan non beras (manggadong)http://p.ost.im/p/dmgRhv

  9. Angka pnganggurn brhasil dturunkan dari 6,37 % tahun 2011 menjadi 6,20 % pada tahun 2012. http://p.ost.im/p/duAXvB

  10. Penurunan angka kemiskinan dari 11,33 persen pada tahun 2011 menjadi 10,67 persen pada tahun 2012. http://p.ost.im/p/duAXvB

  11. Sumut mendapat penghargaan sebagai daerah pengendali inflasi se-Indonesia.http://p.ost.im/p/duAXvB

  12. Sumut brhasil mngendalikn angka inflasi 3,86 % di bawah angka 4,30 % inflasi nasional tahun 2012. http://p.ost.im/p/duAXvB

  13. Bandara Kualanamu dijadwalkan beroperasi minimal April mendatang. http://p.ost.im/p/dmTGBY

  14. SMKN taraf Internasional bagi anak berprestasi, tapi dari keluarga kurang mampu.http://p.ost.im/p/duBCCc

  15. Suswono: Sumut termasuk salah satu lumbung pangan nasional dan diharapkan dapat mendukung target swasembada nasional. http://p.ost.im/p/duDeVA 

  16. SBY tunjuk Gatot Pujo Nugroho sebagai Ketua Dewan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sumatera Utara tertanggal 27 Desember 2012. http://p.ost.im/p/dmGDVY

  17. Jembatan ambruk di Simalungun, Gatot melalui Dinas Bina Marga Sumut langsung merespon. http://p.ost.im/p/dmARNB

  18. Mendorong pemberdayaan pasar tradisional dengan meningkatkan fasilitas dan sarananya. http://p.ost.im/p/dmqmty

  19. Menerima penghargaan dari Presiden RI atas keberhasilan mengendalikan inflasi.http://p.ost.im/p/dmv2Lp

  20. Melalui PerGub 37 tahun 2011 Sumut masuki era baru kemudahan perijinan.http://p.ost.im/p/dm7MSg

  21. Dipenghujung 2012 Gatot serahkan bonus kepada atlet dan pelatih PON dan Peparnas langsung ke rekening Atlet. http://p.ost.im/p/dmsMGK

  22. Penyaluran bantuan SL-PTT padi non hibrida melalui Posko desa.http://p.ost.im/p/duNcqC

  23. Anggaran dana Rp2 M untuk membantu gerakan Pramuka di Sumut. http://p.ost.im/p/du8FyL

  24. Memberikan penghargaan kepada 49 Staf PNS teladan di jajaran Pemerintah PemProvSu. http://p.ost.im/p/dmpT9a

  25. Bantuan berupa alat pertanian untuk menggalakkan "Manggadong" .http://p.ost.im/p/dmQdjA

  26. Penyerahan bantuan kepada penyuluh utk mendukung operasional penyuluh di lapangan. http://p.ost.im/p/dmT2qs

  27. Rampungnya jalan Sei Rakyat – Sei Berombang sepanjang 24 km.http://p.ost.im/p/dm9Wk5

  28. Membagikan 3,5 ton beras kepada ratusan keluarga kurang mampu.http://p.ost.im/p/duYgBu

  29. Kepala Daerah yang memberikan perhatian atas kemajuan yang dicapai perguruan tinggi. http://p.ost.im/p/duAXYh

  30. Pemberi Asuransi nelayan pertama di Indonesia. http://p.ost.im/p/dm5dJk

  31. Menyediakan bantuan 262 rumah  layak huni yang rampung sejak 28 Oktober 2012 lalu. http://p.ost.im/p/duLg4t

  32. Bandara Kualanamu telah rampung rampung 91 persen dan akan diresmikan Maret 2013.  http://p.ost.im/p/dmP2TF

  33. DIPA Sumut tahun 2013 Rp 42,67 triliun naik sebesar 11,29 persen dari tahun 2011 yang jumlahnya hanya Rp Rp 37,77 triliun. http://p.ost.im/p/dmp6YX

  34. Angka Buta Aksara Sumut Menurun Signifikan sebesar 0,28 % tahun 2009 menjadi 0,09 % pada tahun 2012. http://p.ost.im/p/dmPAQ7

  35. Pemberian antuan dalam bentuk dana, bibit dan peralatan produksi kepada Petani dan Nelayan. http://p.ost.im/p/dm7h5U

  36. Mendapatkan penghargaan dari USAID atas komitmennya memajukn program pendidikan di Sumut. http://p.ost.im/p/dmXvx2

  37. Dibawah kepemimpinannya Sumut terbaik ketiga dalam hal  Keterbukaan Informasi Publik.  http://p.ost.im/p/dm9xXv

  38. Bantuan untuk sekolah dan murid serta pengangkatan 6.000 guru honorer jadi PNS. http://p.ost.im/p/duNwJT

  39. 20% APBD untuk Pendidikan. http://p.ost.im/p/duSqQ9 

  40. Membangun Perguruan Tinggi berbasis keunggulan daerah untuk menanggulangi pengangguran. http://p.ost.im/p/duepT8

  41. Perbanyak perumahan layak huni dan terjangkau http://p.ost.im/p/duR2BT

  42. Memberikan investor pelayanan cepat, mudah dan murah. http://p.ost.im/p/dueCFS

  43. Bantuan untuk Nazir Masjid dan bilal mayit.  http://p.ost.im/p/dm9pBx

  44. Kerjasama dengan investor India kelola SDA Sumatera Utara.http://p.ost.im/p/dm7NuP

  45. Penuntasan lahan yang dipakai untuk Jalan arteri Bandara Kualanamu http://p.ost.im/p/du6uxa

  46. Memberikan Rp 20 Miliar untuk Guru di Simalungun  http://p.ost.im/p/duFXdP

  47. Ekspor Ikan dan Udang Sumut naik 34,25% dari US$ 84,139 juta tahun 2011 menjadi US$ 112,959 juta tahun 2012. http://p.ost.im/p/duhw3a

  48. Pengangkatan 6.000 Guru Honorer menjadi PNS. http://p.ost.im/p/dmTPFV

  49. Bantuan senilai Rp 2,19 Miliar untuk meningkatkan pertanian  tebu.http://p.ost.im/p/duDSTA

  50. Demikian isi tweet kami. Jangan lupa 07 Maret 2013 datang ke TPS pilih No. 5 Gatot-Erry
hashtag: #Gatot5Erry
On 01.57.00 by PKS Lampung Selatan in ,    1 comment


1. DIPA Sumut Naik
"Atas upaya Pemprovsu dan kita semua, DIPA ke Sumut tahun 2013 naik 11,29%," kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST"
 http://p.ost.im/p/dmp6YX

2. Angka Buta Aksara Sumut Menurun Signifikan
Gatot mengatakan selama tiga tahun terakhir telah terjadi penurunan penyandang buta aksara yaitu 0,28 % atau 213.138 jiwa dari 12.975.506 jumlah penduduk usia 15  tahun ke atas pada tahun 2009,  mengalami penurunan signifikan menjadi 0,09% atau 170.000 jiwa dari 13.1000.000 jumlah penduduk 15 tahun ke atas pada tahun 2012.
 http://p.ost.im/p/dmPAQ7

3. Mendapatkan Penghargaan dari USAID 
Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) memberikan penghargaan kepada Pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara H Gatot Pujo Nugroho ST atas dukungan dan komitmennya  memajukan  program pendidikan di Sumatera Utara.
http://p.ost.im/p/dmXvx2

4. Memberikan Rp 20 Miliar untuk Guru di Simalungun
Bantuan terbesar tentunya diterima para guru. Karena Gatot secara simbolis menyalurkan bantuan dana sertifikasi, dana tunjangan profesi dan kualifikasi untuk 2.148 guru di Kabupaten Simalungun sebesar Rp 20.013.592.400.
http://p.ost.im/p/duFXdP

5. Membangun Perguruan Tinggi berbasis keunggulan daerah untuk menanggulangi pengangguran.
Sebagaimana dijelaskan Gatot dalam acaa tersebut, SMK bertaraf internasional merupakan mimpi Sumut yang merupakan satu satunya SMK di tanah air yang dibiayai APBD. Melalui seleksi yang fair, sebanyak 233 siswa yag berasal dari seluruh kabuaten/kota sudah dapat menikmati berbagai fasilitas yang ada melalui  program keahlian teknik permesinan, Elektro industri, komputer jaringan, teknik otomotif dan teknik furniture.
http://p.ost.im/p/duepT8
On 01.52.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments


pkssumut.or.id Jakarta (26/2) - Wakil Ketua DPR RI yang baru dilantik, Mohamad Sohibul Iman optimis kasus Century akan mampu dituntaskan oleh KPK sebelum 2014. Menurut Sohibul, Timwas Century yang sudah dibentuk DPR beserta KPK mampu menegakkan hukum seadil-adilnya dalam kasus ini.


“Century kan sudah ada Tim-wasnya. Saya akan bekerja optimal sebagai Wakil Ketua DPR mengawal kasus ini. Bagaimanapun ini amanah yang harus diselesaikan, “ ujar Sohibul dalam acara pelantikan dirinya sebagai Wakil Ketua DPR RI menggantikan Anis Matta di DPR, Selasa (26/2).

Dalam pendapat Doktor lulusan Jepang ini, DPR akan mendorong KPK untuk menetapkan status hukum kasus ini dan beberapa pihak yang terlibat di dalamnya. Perihal penggunaan Hak Menyatakan Pendapat, Sohibul menyatakan hal tersebut bisa saja dilaksanakan jika sudah ada status yang lebih jelas dari KPK.

“Hak Menyatakan Pendapat kan lebih afdhol jika KPK sudah bisa tetapkan status yang lebih jelas dari kasus ini. Jadi, semua kemungkinan bisa saja terjadi,” ujarnya.

Dalam kesempatan pelantikan tersebut, Wakil Ketua DPR 2009-2013 Anis Matta mengucapkan selamat atas pelantikan Sohibul Iman sebagai penggantinya. Menurut Anis, Sohibul adalah sosok yang tepat karena kepakarannya di bidang ekonomi.

“Saya ucapkan selamat kepada Pak Sohibul Iman. Saya percaya kepakarannya di bidang ekonomi dan anggaran. Beliau Doktor lulusan Jepang dan tentu menguasai seluk beluk masalah dan solusi ekonomi,” kata Anis.

Anis juga meyakini bahwa Sohibul Iman tidak akan sulit menyesuaikan diri dengan unsur pimpinan yang lain. Hal ini karena, Sohibul Iman sudah memiliki pengalaman sebelumnya sebagai pimpinan di beberapa komisi dan aktif menawarkan gagasan untuk perbaikan khususnya di bidang Ekonomi.

“Beliau tidak akan sulit menyesuaikan diri dengan tugasnya, serta dengan pimpinan yang lain. Hal ini karena jejak rekamnya di berbagai komisi di DPR. Saya yakin dan percaya,” tutup Anis.

Sumber: Fraksi PKS DPR RI
On 01.47.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments


Kita sudah banyak melihat buktinya terjadi sehari-hari. Media massa seperti bertepuk tangan dan seolah-olah ikut memberi semangat melihat kejadian ini. Inikah yang dimaksud dengan reformasi dan demokrasi?

Oleh Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Politik adu domba telah terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Bangsa penjajah saat itu menamakannya sebagai devide et impera. Ini adalah sebuah strategi yang digunakan oleh pemerintah penjajahan Belanda untuk kepentingan politik, militer dan ekonomi. Politik adu domba digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh penjajahan Belanda di Indonesia.

Secara prinsip, praktik politik adu domba adalah memecah belah dengan saling membenturkan (mengadu domba) kelompok besar yang dianggap memiliki pengaruh dan kekuatan. Tujuannya adalah agar kekuatan tersebut terpecah-belah menjadi kelompok-kelompok kecil yang tak berdaya. Dengan demikian kelompok-kelompok kecil tersebut dengan mudah dilumpuhkan dan dikuasai.

Unsur-unsur yang digunakan dalam praktik politik jenis ini adalah; 1. menciptakan atau mendorong perpecahan dalam masyarakat untuk mencegah terbentuknya sebuah aliansi yang memiliki kekuatan besar dan berpengaruh, 2. memunculkan banyak tokoh baru (tokoh boneka?) yang saling bersaing dan saling melemahkan, 3. mendorong ketidak percayaan dan permusuhan antar masyarakat, 4. mendorong konsumerisme yang pada akhirnya memicu timbulnya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).

Di negara asalnya Belanda, politik devide et impera sudah lama tak digunakan lagi. Belanda saat ini saat menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Namun justru di Indonesia politik itu nampaknya masih membekas dalam dan masih saja digunakan. Apalagi setelah era reformasi yang oleh banyak pihak dinilai salah kaprah. Legislatif seperti berlawanan dengan eksekutif, partai A saling melemahkan partai B, begitu sebaliknya dan seterusnya. Padahal justru seharusnya saling bekerjasama dan saling memperkuat dan melengkapi.

Siapa saja bisa dijadikan domba aduan, dari warga masyarakat biasa sampai warga kelas atas bisa jadi objek sasaran. Sesama pedagang bisa dipicu perpecahan, gara-gara masalah kecil bisa berkembang menjadi konflik yang besar. Perbedaan agama, suku dan sebagainya bisa memunculkan percikan api konflik yang bila diberi bensin segera berkobar menjadi konflik besar. Kita sudah banyak melihat buktinya terjadi sehari-hari. Media massa seperti bertepuk tangan dan seolah-olah ikut memberi semangat melihat kejadian ini. Inikah yang dimaksud dengan reformasi dan demokrasi?

Dalam politik adu domba, konflik sengaja diciptakan. Perpecahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya aliansi yang bisa menentang penjajah (imperialisme), entah itu kekuasaan di pemerintahan, di partai, kelompok di masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak atau orang-orang yang bersedia bekerja sama dengan kekuasaan, dibantu atau dipromosikan, mereka yang tidak bersedia bekerjasama, segera disingkirkan.

 Ketidak percayaan terhadap pimpinan atau suatu kelompok sengaja diciptakan agar pemimpin atau kelompok tersebut tidak tumbuh besar dan solid. Adakalanya tidak hanya ketidak percayaan, bahkan permusuhan pun sengaja disemai. Teknik yang digunakan adalah agitasi, propaganda, desas-desus, bahkan fitnah. Praktik seperti itu tumbuh subur saat ini.

Di zaman penjajahan Belanda, mereka menggandeng beberapa pribumi untuk menjadi karyawan mereka, diberi kehidupan yang layak, tapi sadar atau tidak, mereka dikondisikan untuk mengkhianati bangsanya sendiri. Raja di satu kerajaan diadu domba dengan raja lain yang pada akhirnya menimbulkan peperangan dan perpecahan. Alhasil saat itu tidak muncul sebuah kerajaan yang besar dan kuat.

Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di tengah era informasi yang sangat liberal, praktik adu domba itu menjadi tontonan sehari-hari. Kita secara vulgar disuguhi berita-berita tentang perseteruan antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan, saling tuding, saling caci-maki, saling sikut dengan intrik-intrik politik yang sangat kasar dan kejam. Penggiringan isu, disadari atau tidak, dilakukan sedemikian rupa untuk saling menghancurkan.

Di era merdeka dan modern seperti saat ini, tentu kita tidak ingin dijadikan domba aduan oleh siapapun dan pihak manapun. Imperalisme maupun neo imperalisme, tidak boleh lagi menjadi raja di negeri yang kita cintai ini, apalagi di Sumatera Barat negeri asal penggagas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Password untuk mengatasi masalah ini sama dengan yang kita gunakan saat mengusir penjajah Belanda dulu, yaitu persatuan dan kesatuan. Mari bersatu menghimpun kekuatan bersama, jangan mau dinina-bobokan dan lalu diadu domba. Indonesia adalah negara besar dan memiliki potensi yang besar. Dengan kesatuan dan persatuan, insya Allah kita capai kejayaan bersama dalam waktu singkat. Amiin. ***

Padang Ekspres 27 Februari 2013


*http://irwan-prayitno.com/2013/02/politik-adu-domba/