Kamis, 27 Desember 2012

On 22.19.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments

Dikisahkan ada seorang Ustadz yang sibuk berdakwah, di antara tempatnya berdakwah adalah di Lembaga Pemasyarakatan (LP). Tentu saja harapannya kehadiran seorang Ustadz di penjara akan memberikan pengaruh besar dan perubahan pada segenap penghuni LP. Selang beberapa tahun, kemudian sang Ustadz berpindah tempat tinggal dan tempatnya berdakwah. Ia pergi ke ibu kota untuk berdakwah. Salah seorang penghuni LP kemudian menghirup udara bebas. Untuk memulai hidup barunya di tengah masyarakat, si penghuni LP mencari di mana keberadaan sang Ustadz. Entah bagaimana mantan penghuni LP mencari informasi, sehingga ia mendapatkan alamat asli sang Ustadz dan dapat kembali berkomunikasi. Datanglah mantan penghuni LP itu mengeluh dan merengek-rengek ingin memulai hidup barunya. Namanya seorang ustadz, tentu saja sangat tulus hatinya, sehingga ia pinjamkan uang beberapa juta rupiah kepada mantan muridnya. Rupanya kegigihan sang murid untuk berjuang membuka lembaran hidup barunya begitu besar. Sehingga ia kembali merengek kepada sang Ustadz untuk diperkenalkan kepada Pimpinan sebuah pesantren. Sang Ustadz begitu berbaik sangka bahwa mantan muridnya sudah berubah dan menjadi orang baik. Akhirnya, diperkenalkanlah muridnya tersebut hingga pesantren mempercayakan orang tersebut untuk memasok kebutuhan makanan seluruh penghuni pesantren, dari sayur-sayuran, daging, dan lain sebagainya. Sang murid juga meminta kepada sang Ustadz untuk tidak membuka masa lalunya sebagai penghuni LP. Sang Ustadz pun begitu komitmennya menjaga rahasia tersebut.

Sang murid pun menunjukkan akhlaknya yang semakin apik dan mulia. Sesekali ia menyiapkan makanan ifthor sebagai sedekah bagi seluruh santri dan ustadz di pesantren tersebut. Ketika salah seorang ustadz hendak melangsungkan pernikahannya, sang murid menyiapkan beberapa mobil tanpa dipungut biaya sedikitpun. Bahkan sang murid mengaku bahwa ia juga punya bisnis rental mobil. Di waktu yang lain, sang murid mengulurkan tangannya kepada salah seorang Ustadz dengan membelikan motor secara tunai (pengakuan sang murid), dan sang Ustadz dibebaskan untuk membayar sesuai kemampuannya setiap bulan. Cerita kebaikan sang murid mantan penghuni LP begi menyebar ke seluruh penghuni pesantren. Janji-janji dan niat baiknya semakin banyak. Ia ingin menggratiskan seluruh pegawai untuk jalan-jalan di akhir tahun. Ia juga ingin mengaspal jalan masuk pesantren dari jalan raya hingga pintu gerbang pesantren. bahkan ia sudah mengkomunikasikan rencana itu kepada salah seorang warga di sekitar pesantren. Lama waktu berjalan, semakin terdengar berita baik tentang sang murid mantan penghuni LP. Hingga saatnya ia mulai rajin berkomunikasi kepada banyak Ustadz di pesantren. Satu waktu ia menyampaikan bahwa ia akan bekerjasama dengan sebuah perusahaan roti untuk memasok telur dengan durasi perjanjian selama satu bulan. Dana yang dibutuhkan cukup besar. Tawaran bagi hasil ia jelaskan secara tertulis, dan mengatakan bahwa bagi hasil untuk dirinya lebih kecil. Tentu saja para Ustadz sudah sangat percaya dengan banyaknya kebaikan yang diumbar oleh sang murid. Dalam sekejap, para Ustadz menitipkan sebagian uangnya kepada sang murid dengan bagi hasil tertentu dan dalam jangka waktu hanya 1 bulan.

Hari-hari berlalu penuh dengan canda tawa antara sang murid dan beberapa ustadz yang menitipkan dananya. Impian-impian direncanakan oleh ustadz untuk mengisi liburan dengan agenda yang menarik. Ada yang dijanjikan akan mendapat rumah baru, ada yang dijanjikan dengan kendaraan roda empat, ada yang bermimpi ingin buka bisnis rental mobil seperti sang murid…. Sebuah pengharapan yang luar biasa. Di hari-hari menjelang janji tersebut dipenuhi, tiba-tiba sang murid yang memiliki janji selangit kepada para Ustadz, menghilang dari peredaran di lingkungan pesantren. satu persatu para Ustadz sudah mulai panik. Batang hidungnya yang biasanya hampir sehari semalam ada di pesantren, ternyata sudah tidak tampak lagi. Mobil yang biasa bolak balik pesantren mengantara sayur mayor dan bahan makanan pesantren tidak ada lagi. Sang sopir pun tidak banyak tahu, siapa majikan dia sebenarnya. Alat komunikasi yang biasa aktif bordering tidak pernah diangkat. Janji demi janji dibuat, ternyata tidak ada yang terbukti. Masya Alloh musibah besar terjadi. Sang murid melarikan uang para ustadz dalam jumlah yang cukup besar. Rumah yang selama ini diasumsikan milik sang murid, ternyata hanya rumah sewa. Bisnis rental mobil yang diceritakan sang murid, ternyata milik orang lain. Ia menghilang bak ditelan bumi. Deraian air mata keluarga para Ustadz, kebingungan dan kepanikan terasa di wajah para ustadz. Ya sang murid hilang tanpa jejak sedikitpun. Tibalah akhirnya ada komunikasi dengan sang ustadz yang memperkenalkan sang murid di pesantren, hingga akhirnya ia mengaku bahwa sang murid adalah jamaah pengajiannya pada saat mengajar dan berdakwah di LP. Sang Ustadz sangat menyesal memperkenalkan sang murid ke pesantren tempatnya mengajar, karena meninggalkan musibah besar yang tidak pernah diduga sebelumnya. Nauzu billah…. Mohon doanya agar Alloh memberikan kesabaran dan keikhlasan bagi Para Ustadz yang tertimpa musibah ini, dan diganti dengan yang lebih baik dan lebih berkah. Semoga menjadi Ibroh untuk kita semua, agar tidak mudah percaya kepada orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar