Jumat, 21 Februari 2014

On 20.44.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments


Indonesia pada tahun 2013 lalu mengalami surplus beras sebanyak 5,4juta ton. Hal ini disampaikan oleh Suswono, Menteri Pertanian bahwa Indonesia mengalami surplus beras nasional sampai dengan 5,4juta ton sebagaimana dikutip dari kompas.com.

"Sekarang Bulog tidak impor tahun ini. Berarti surplus kita kira-kira 5,4 juta ton," kata Suswono ditemui usai Rakor Pangan, di Jakarta. 

Surplus beras ini tidak lepas dari keseriusan Menteri Pertanian dalam rangka mensejahterakan petani yang ada di Indonesia. Uniknya dari surplus beras ini, 25,69 persen  berasal dari Provinsi yang dipimpin oleh kader-kader PKS.

Berdasarkan data pada web resmi Badan Pusat Statisik Indonesia, bps.go.id bahwa 25,69 persen dari jumlah surplus beras tahun 2013 berasal dari 4 Provinsi yaitu Jawa Barat (16,95%), Sumatera Utara (5,23%), Sumatera Barat (3,41%) dan Maluku Utara (0,10%). Berdasarkan data ini maka seperempat (1/4) produksi beras nasional disupplay dari 4 provinsi tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa 4 Provinsi tersebut dipimpin oleh kader-kader PKS, Jawa Barat oleh Ahmad Heryawan, Sumatera Utara oleh Gatot Pujo Nugroho, Sumatera Barat oleh Irwan Prayitno dan Maluku Utara dipimpin oleh Abdul Ghani Kasuba (wakil gubernur yang sekarang terpilih sebagai gubernur).  [kasurau]

Senin, 10 Februari 2014

On 23.59.00 by PKS Lampung Selatan in    No comments


Oleh: Hepi Andi Bastoni

1. Sah tidaknya Pemilu tak ditentukan seberapa banyaknya jumlah golputer. 

Misalnya, jumlah anggota WNI yang berhak memilih 150 juta jiwa, tapi realitasnya yang memilih hanya 60 juta orang, sedangkan yang golput sebanyak 90 juta orang. Maka, PEMILU TETAP berlangsung dan SAH! Jadi, golput tidak punya kekuatan.

2. Terpilih tidaknya seorang CALEG menjadi anggota dewan tak terpengaruh dan TIDAK PULA ditentukan oleh suara golput, tetapi berdasarkan suara terbanyak dari pemilih sah. 

Misalnya, jumlah anggota DPR yang ditetapkan 500 orang. Jumlah anggota DPR itu akan tetap terpenuhi meskipun jumlah rakyat pemilih hanya 60 juta atau bahkan hanya 10 juta orang. Di sini golput juga tidak ada efeknya.

3. Jumlah orang yang golput itu SAMA SEKALI TIDAK DIPERHITUNGKAN keberadaannya dalam UU Pemilu.  

Dengan kata lain:  jumlah suara golput sebanyak 10.000 orang itu misalnya,  dianggap tidak ada, dan PASTI DIKALAHKAN dengan jumlah 500 orang yang memilih.

4. Suara golputer itu, realitasnya, tidak dapat menjadi solusi dan tidak punyai pengaruh apapun untuk kebaikan negeri ini. 

Hingga kini, golput tidak ada legalitasnya yang mampu menuntut sah atau tidaknya hasil pemilu. Golput juga tidak bisa menurunkan atau mengangkat seorang presiden atau kepala daerah terpilih. 

5. Golput itu umumnya bukan dari pemikiran rasional tapi emosional. 

Biasanya mereka yang golput itu akibat rasa kecewaan, pesimis, putus asa dan apatis terhadap keadaan negeri ini. Bahkan, apatis (tidak peduli) bila negara dan bangsa ini dikuasai/dijarah oleh para penjahat.

6.  Dengan sistem dan peraturan UU Pemilu yang ada, salah satu yang diinginkan oleh para koruptor itu adalah: semakin banyak anggota masyarakat yang memutuskan untuk golput, agar mereka lebih mudah menjadi anggota dewan dengan 'money politic'.

7. Sikap golput ini akan makin berbahaya jika yang golput adalah orang-orang shalih dan baik. 

Sebab, ketidaksertaan mereka dalam Pemilu akan menambah sedikit dukungan untuk orang baik-baik di panggung kekuasaan. Jika orang-orang baik itu semakin sedikit, maka peluang para koruptor dan penjahat akan semakin mudah melenggang kepanggung kekuasaan. Misalnya, jika anggota dewan itu seharusnya 500 orang, maka kalau jumlah orang baik-baik hanya 100 orang, secara  otomatis orang tidak baik itu menjadi 400 orang. 

8. Jika alasan golput karena sistem yang ada sekarang tidak sesuai dengan ajaran Islam, justru peluang untuk mengubah undang-undang itu ada di parlemen dan panggung kekuasaan. 

Jika kita menginginkan aturan di negeri ini bersumber dari ajaran Islam, maka orang-orang yang pro dengan syariat Islam harus mengubahnya. Tempat mengubahnya itu bukan di jalanan tapi di dalam gedung parlemen. Jika umat Islam ingin mendirikan tempat ibadah, maka yang mengeluarkan IMB-nya itu kepala daerah. Tuntutan 1000 orang di jalanan, bisa dimentahkan oleh keputusan hanya seorang kepala daerah. Untuk menjadi kepala daerah atau presiden tidak bisa ditempuh dengan golput.


*Follow penulis: @andibastoni
On 23.52.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments

BANDAR LAMPUNG – Menyadari pentingnya kader sebagai aset berharga dan pentingnya mengokohkan rumah tangga kader, DPD PKS Bandar Lampung di daerah pemilihan (dapil) Kemiling, Langkapura dan Tanjung Karang Barat menggelar Seminar Keluarga Indonesia di Aula SLB Kemiling (14/1). Seminar yang mengangkat tema “Rumahku Surgaku” menghadirkan pembicara Drs. Al Muzzammil Yusuf, anggota DPR RI dari Fraksi PKS. Acara dihadiri sekitar 150 pasangan kader PKS.
Dalam pemaparannya Muzzammil mengatakan, sebenarnya pengetahuan tentang bagaimana membina rumah tangga harmonis ikhwan akhwat semua sama. Tinggal aplikasinya saja yang tidak semua bisa menerapkannya. Ini biasanya didasarkan pada fator masa lalu pendidikan si suami atau si istri dikeluarga masing-masing.
Pada Al Quran Surat Ar Rum ayat 21, terdapat kalimat “litas kuunu alaihaa”. Ini maknanya adalah rumah secara psikologis. Agar manusia merasa tenang dan tentram. Kecenderungan dan rasa tentram suami kepada istri dan kelengketan istri dengan suaminya merupakan hal yang bersifat fitrah dan sesuai dengan instingnya.
Ayat ini merupakan pondasi kehidupan yang diliputi suasana perasaan yang demikian sejuk. Isteri ibarat tempat suami bernaung, setelah perjuangannya seharian demi mendapatkan sesuap nasi, dan mencari penghiburnya setelah dihinggapi rasa letih dan penat. Dan, pada putaran akhirnya, semua keletihannya itu ditumpahkan ke tempat bernaung ini. Ya, kepada sang istri yang harus menerimanya dengan penuh rasa suka, wajah yang ceria dan senyum. Ketika itulah, sang suami mendapatkan darinya telinga yang mendengar dengan baik, hati yang welas asih dan tutur kata yang lembut.
Untuk mendapatkan perasaan tenang dan tentram, maka rasa cinta dan sayang harus diekspresikan. Ekspresi menyatakan kasih sayang ada tiga. Showtouch, dan callShow artinya kita diminta untuk menunjukkan kasih sayang kita dalam bentuk perbuatan. Seperti membantu istri menyelesaikan pekerjaan rumah. Touch artinya memberikan sentuhan kasih sayang, seperti menggenggam tangan suami atau istri, mencium keningnya. Terakhir call, artinya memberikan panggilan khusus untuk menyatakan rasa cinta pada pasangan atau keluarga kita.
Muzzammil juga mengajak seluruh kader untuk menjadikan Nabi Muhammad dan keluarganya sebagai rujukan utama dalam berumah tangga juga rujukan dalam mendidik anak-anak. Muzammil meminta kader PKS untuk mengajarkan anak-anaknya untuk jatuh cinta pada nabi, lalu ajarkan untuk jatuh cinta pada keluarga nabi, dan terakhir ajarkan untuk jatuh cinta pada Al quran.
Jika dalam teori sosiologi ada teori modelling, dimana seseorang itu bertindak atau bertingkah laku mengikuti tindakan atau tingkah laku orang yang menjadi panutannya. Dengan mengajarkan keluarga terutama anak-anak jatuh cinta pada nabi dan keluarga, serta Al quran, maka model utama yang diikuti oleh keluarga adalah model Islami dengan ahlak Islami. [Reporter: Rofianto]
On 23.48.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments


By: Nandang Burhanudin

Di level bawah, kader-kader PKS yang berjibaku dengan masyarakat acap dijuluki dengan berbagai sebutan. Oleh mantan kader disebut, "Kader Tertipu" "Fanatik Qiyadah", "Muayyid Dungu". Nah oleh para HaTers, mereka dijuluki; "Orang-orang Gila!" Seakan sudah kehabisan kata untuk menunjuk hidung kader-kader PKS yang tetap solid dan tsiqoh dengan misi perjuangan.

Alih-alih berbalik membenci atau ramai-ramai keluar, malah para mantan kader pun "berhenti sendiri untuk mengumbar aib" para qiyadah PKS. Terlebih dengan sigap semua kader sepakat menyikapi dengan jurus AYTKTM; "Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani!"

Saya mencoba mencari-cari apa makna gila sebenarnya. Dalam hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Ibn Najjar dikasahkan, "Pada suatu hari, Rasulullah Saw saat berkumpul bersama para sahabat, lewatlah seorang pria gila. Para sahabat berkata, "Pria ini, adalah pria gila."

Rasul Saw kemudian bersabda, “Hati-hati bicara. Orang ini bukanlah gila. Orang gila adalah yang terus menerus berbuat maksiat. Sedangkan orang ini, ia sedang mendapat musibah (sakit)”.

Dalam riwayat lain baginda Rasul bersaba, "Tahukah kalian orang gila seperti apa?" Sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

Rasul Saw kemudian menjelaskan:”Orang gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan, yang keburukannya membuat orang tidak merasa aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya (al-majnuun haqq al-majnuun)."

Melihat hadis ini saya meyakini, sifat-sifat orang gila sejati adalah;

1. Sombong, angkuh.
2. Merasa diri paling baik dan memandang rendah orang lain.
3. Tidak aman dengan keburukannya.
4. Kebaikannya tidak pernah diharapkan.

Mari kita perhatikan, dalam sistem pembinaan PKS justru yang diajarkan adalahMahabbah (cinta), bagaimana di PKS setiap kader diwajibkan mencintai orang-orang terdekat; istri, anak, keluarga, tetangga, alim ulama, hingga saudara senegara. Tidak ada doktrin melakukan pengeboman. Bahkan doktrin mengkafirkan siapapun tidak pernah diajarkan.

Di PKS diajarkan untuk menggali potensi terbaik dan meraih kinerja utama secara profesional, bersih, dan proporsional. PKS mengajarkan kadernya untuk memiliki spesialisasi. Untuk kemudian sumbangsihnya paling ditunggu di masyarakat.

PKS mengajarkan harmoni. Menjauhi perdebatan furu'iyyah. Maka di PKS terdiri dari anasir seluruh ormas Islam. Ada dari NU, Muhammadiyah, Persis, PUI, Al-Washilah, Al-Irsyad, dan lain-lain. Soal ibadah dikembalikan kepada pemahaman masing-masing. PKS mengajak untuk bekerjasama dalam masalah-masalah yang disepakati, namun toleran pada masalah-masalah yang menjadi ciri khas masing-masing.

Di tataran kenegaraan. PKS tidak mengajarkan kadernya untuk membenci Indonesia. Para pendiri PKS paham, Indonesia itu perlu kerja nyata yang tidak sekedar caci maki atau menebar stigma. PKS pun tidak antinasionalisme. Malah di gelombang ketiga, PKS bercita-cita menjadikan Indonesia sepenggal Firdaus. []
On 23.44.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments


Oleh: @bennysyamsuri

Kenali dirimu, kenali musuhmu, kenali medan pertempuranmu,
Maka kau akan menang di setiap pertempuranmu
(The Art of War, Sun Tzu)

“Mobilnya lagi di-branding” begitulah percakapan yang saya dengar dari seseorang yang mobilnya akan dipinjam untuk kepentingan kampanye. Mungkin disini maksudnya mobil yang di-branding itu adalah mobil yang dipasangi stiker logo dan nomor partai yang menutupi seluruh atau sebagian body mobil dengan tujuan untuk mengenalkan dan memasarkan partai tersebut.

Ya boleh-boleh saja sih, mobil itu di-branding, tapi menurut saya itu hanya akan MENGINGATKAN konstituen akan logo dan nomor partai itu atau caleg yang ada didalamnya, tapi branding itu tak akan pernah menjual! Jika mobil yang di-branding tersebut, tak pernah MENAWARKAN apalagi menjual partainya kepada konstituen, tentu yang saya maksud disini, yang menawarkan dan menjual itu adalah anggota atau kader partainya, bukan mobil itu.

Berapa banyak mobil yang di-branding menjelang hari pemilu, mulai dari mobil partai itu sendiri, mobil calegnya, mobil ambulance gratis partai itu sendiri dan lainnya, banyak yang berseliweran di jalanan. Pertanyaannya, apakah masyarakat merasakan manfaat langsung dari keberadaan mobil tersebut? Tidak, mungkin ada tapi sebagian.

Jika mobil yang di-branding tersebut hanya ditempeli stiker logo, nomor partai dan caleg, kemudian hanya dipakai berseliweran di jalanan, tanpa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, maka saya katakan mobil itu hanya "MENGINGATKAN" masyarakat akan logo, nomor partai dan caleg yang ada di mobil tersebut, tapi tidak menjual (marketable) yang bisa membuat masyarakat mempunyai keputusan bulat untuk mencoblos partai dan caleg itu (closing).

Apalagi jika mobil branding tersebut hanya dipakai untuk hura-hura, kebut-kebut di jalan, seperti yang sering saya lihat mobil branding partai berwarna biru dipakai anak-anak muda nongkrong, sambil minum kopi cappucinno cincau, setelah itu tancap gas sekencang-kencangnya. Ini membuat masyarakat menjadi tidak simpati terhadap partai dan caleg yang ada di branding mobil tersebut, setidaknya ini respon yang saya dengar dari sekitar saya.

Branding itu adalah memasarkan merek, dan dalam hal ini merek itu tidak hanya sekedar logo dan nomor partai dan caleg, tapi segalanya! Merek adalah segala-galanya, bisa saja menjadi indikator nilai (value), asset, dan lain-lain.

Ada dua arus utama dalam memasarkan sebuah merek, MENGINGATKAN dan MENAWARKAN.

Arus MENGINGATKAN sering kali membutuhkan biaya yang besar dalam memasarkan sebuah merek, dalam konteks ini memasarkan merek itu adalah mensosialisasikan dan mengkampanyekan logo dan nomor partai dan caleg. Membuat dan menyebar stiker, kartu nama, baliho, iklan di media massa dan media elektronik, termasuk mobil branding itu hanya akan mengingatkan masyarakat akan partai tersebut, tapi belum tentu memilih partai tersebut dan sulit diukur dengan target yang dicapai.

Sedangkan dalam arus MENAWARKAN, kegiatan memasarkan dan menjual nama partai bisa terukur dari segi biaya dan pencapaiannya. Sebut satu contoh, LT3 Besar PKS, kegiatan yang diadakan oleh kader PKS di akhir pekan, tidak membutuhkan biaya yang besar dan mendapatkan closing, ketetapan hati masyarakat untuk coblos PKS. Banyak varian dalam kegiatan ini yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, door to door, layanan kesehatan gratis, tukar 3 botol bekas dengan tiga jenis sayuran (trade in), turun ke lokasi bencana, gotong royong, kongkow dengan anak-anak ABG pada malam minggu, kegiatan yang sepele tapi masyarakat mendapatkan manfaat langsung, sementara PKS mendapatkan gain yang besar.

Masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan PKS itulah yang harus tetap konsisten dilakukan dalam memasarkan PKS, apakah melalui LT3 atau kegiatan lainnya.

Masyarakat mendapatkan manfaat langsung adalah adalah sebuah value dari branding PKS, semua manfaat yang didapat oleh masyarakat (total get) dibagi dengan semua pengorbanan yang diberikan oleh masyarakat (total give).

Total get yang didapat masyarakat ini terdiri dari dua manfaat fungsional dan manfaat emosional. Sederhananya, kalau masyarakat coblos PKS, apa untungnya bagi mereka yang telah rela ikhlas coblos PKS, katakanlah contohnya, jika mereka coblos PKS yang dalam hal ini mendukung pasangan Agung – Paryadi (ABDI), maka PKS akan mewujudkan tujuh program unggulan ABDI diantaranya pendidikan gratis. Nah inilah manfaat fungsional yang masyarakat dapatkan ketika mencoblos PKS. Manfaat emosionalnya adalah, katakanlah, kader PKS yang memasyarakat, anggota dewannya sering silaturahmi, ada atau tidak ada bencana PKS tetap layani kesehatan gratis, dsb, sesuatu yang benar-benar menyentuh di hati masyarakat. Maka lakukanlah selalu PENAWARAN di setiap LT 3, katakan untung dan ruginya jika tidak coblos PKS.

“PKS adakan acara lomba ya di Islamic Centre? Pakai baju putih semua”, begitulah pertanyaan yang ditanyakan seorang jamaah masjid selepas shalat maghrib. Ada dua point penting yang diasosiasikan jamaah itu dalam benak pikirannya dan terlontar dalam pertanyaannya. Acara dan baju putih diasosiasikan kepada PKS. Padahal ketika itu PKS Lampung Utara tidak adakan acara di tempat tersebut. Tapi jamaah tersebut mengasosiasikan PKS (sering) adakan acara dan berpakaian putih-putih. Sama halnya seperti jilbab lebar, jenggotan, ikhwan & akhwat, aksi damai, anggota dewan sering isi ceramah dan khutbah jumat sering diasosiasikan kepada PKS, bahkan di masjid dimana saya shalat tarawih, seorang jamaah nyeletuk sembari bergurau “ini jadwal ustadz ceramahnya penuh dengan ustadz kamu, ustadz PKS semua”.

Dalam memasarkan dan menjual PKS, asosiasi yang positif mesti tetap dipertahankan di benak masyarakat secara konsisten dan persisten, bahkan mesti ditambah lagi variannya. Seperti LT 3 , harus tertanam dalam benak masyarakat bahwa LT 3 PKS itu adalah layanan peduli sosial PKS, di dalamnya ada layanan kesehatan gratis, bekam gratis, pelatihan wira usaha, pelatihan keterampilan (life skill), kader PKS sopan dan santun, ramah jika bertemu warga, mudah dimintai pertolongan, yang suka bersih-bersih kampung dan masjid itu kader PKS.

LT 3 adalah nilai tambah (added value) bagi PKS, bukan produk komoditas, hal yang dilakukannya berbeda dengan partai lainnya, tiada duanya, tidak semua partai bisa mengerahkan kader dan simpatisannya untuk melakukan direct selling and closing. Inilah yang menjadi differentiation bagi PKS, kader dan simpatisannya mudah digerakkan, tanpa bayaran, lebih dekat ke masyarakat dan melakukan kegiatan di lingkungan masyarakat, sehingga mudah bagi masyarakat untuk asosiasikan PKS itu dengan LT 3 dan kegiatan peduli masyarakat lainnya.

Jika sepanjang jalan Jend. Sudirman ada 10 penjual bakso yang berderet, apa yang membuat kita tertarik untuk beli di salah satunya dibandingkan 9 lainnya? Bisa jadi karena pelayanannya ramah, teh botol gratis, baksonya besar dibandingkan 9 penjual bakso lainnya, itu pentingnya added value & differentiation. 

Seperti halnya acara diatas yang identik dengan pakaian putih, kemudian diasosiasikan sebagai acara PKS, tentu hal ini menaikkan nilai branding PKS, maka LT 3 harus dikonsep dan dikemas menjadi Event Marketing (EM) & Marketing Public Relation (MPR), dimana setiap LT 3 atau acara lainnya dijadikan ajang untuk meningkatkanawareness masyarakat, mengkomunikasikan serba serbi PKS dan membuat PKS dan masyarakat saling mendekat, karena PKS mudah dikenali oleh masyarakat, apakah itu karena warna bajunya, kepeduliannya terhadap yang sakit, kader – non kader, simpatisan – non simpatisan. Lumbung Darah PKS, apakah partai lain melakukan hal yang sama?, tidak.

Nah, event seperti ini harus dijadikan momentum untuk event marketing dan marketing public relation, yang akan membuat masyarakat lebih aware dan mengasosiasikan PKS dengan berbagai hal positif dalam mindset mereka.

Ketika saya dimintai donor darah AB, dalam persiapan donor itu, Pak Ho ( Muhammad Ernanto, Caleg PKS No 7 Dapil 4 untuk DPRD Lampung Utara) yang menemani saya ke ruang PMI, saat itu melakukan event marketing dan marketing public relation kepada tiga orang keluarga si sakit yang menunggui donor darah saya, dia jelaskan semua tentang Lumbung Darah PKS dan semua layanan kemasyarakatan PKS.

Jika sudah seperti itu, maka obrolan tersebut akan diceritakan pada keluarga lainnya, “kader PKS peduli, rela ikhlas donor darah”, maka ini akan menjadi Mouth to Mouth Marketing (M2M Marketing), pada akhirnya bukan mulut kita yang akan banyak berbicara dan bercerita tapi tindakan dan aksi nyata kita.

Take action n sold out ! (wallahu a’lam).
On 23.41.00 by PKS Lampung Selatan in ,    No comments
Irwan Prayitno Gubernur Sumatera Barat


"Stres"

Oleh Irwan Prayitno
Gubernur Sumatera Barat

Peristiwa mengejutkan dan tak disangka-sangka terjadi Rabu, 22 Januari 2014 lalu, sekitar pukul 14.00 WIB. Seorang lelaki muda dengan postur tubuh sedikit tambun memasuki kantor gubernur Sumatera Barat. Di tangannya terhunus sebilah pisau. Menurutnya ia akan membunuh dan menguliti kepala gubernur.

Peristiwa itu memang tak disangka-sangka. Awalnya tak ada yang mencurigakan dari lelaki berkacamata minus dan berpenampilan terdidik ini. Penampilannya malah cenderung parlente, mengendarai mobil jenis Toyota Rush berwarna hitam. Belasan petugas Satpol PP yang bertugas di kantor gubernur saat itu pun terkecoh dan tidak mengetahui kehadirannya.

Pengawalan di kantor gubernur dan di rumah dinas gubernur memang sengaja saya buat minimalis dan minim protokoler. Maksudnya adalah supaya saya bisa dekat dengan masyarakat dan tidak ada gap yang jauh antara gubernur dan masyarakat. Di setiap kesempatan hal serupa juga saya lakukan, minim protokoler, berbaur dengan masyarakat.

Tak berhasil menemukan gubernur untuk melaksanakan niatnya, pria ini langsung pergi dan menghilang. Ia menghilang sebelum petugas keamanan dari Satpol PP yang bertugas saat itu berhasil meringkusnya.

Belakang baru diketahui bahwa pria ini mengalami stres. Ia adalah tamatan jurusan geologi Istitut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP), pria yang baru enam bulan berada di Sumbar ini adalah kandidat dosen pada Fakultas Teknik tersebut, dan telah lulus seleksi kemampuan akademik. Belakangan baru diketahui bahwa pria yang tergolong cerdas ini mengalami gangguan psikologis (stres).

Stres dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang (Robbins, 2001). Stres bisa juga diartikan sebagai suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik dan psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Ringkasnya stres disebabkan oleh adanya penghalang/tekanan bagi seseorang untuk mencapai apa yang ia inginkan.

Ada banyak penyebab timbulnya stres. Masalah ekonomi, misalnya. Bahkan masalah ekonomi dicatat sebagai penyebab stres utama dalam masyarakat kita. Lingkungan yang tidak nyaman, kesulitan memperoleh pendidikan, birokrasi yang berbelit-belit, merupakan sejumlah pemicu stres pada masyarakat. Banyak faktor lainnya yang membuat masyarakat tidak nyaman dan stres.

Pemerintah secara umum, atau pemimpin secara spesifik yang diamanahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkewajiban memperkecil penyebab stres dalam masyarakat. Caranya adalah dengan memfasilitasi dan membantu masyarakat untuk meningkatkan ekonominya, meningkatkan pelayanan dan mempermudah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang mendasar seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

Jika semua itu berjalan lancar, tidak serba susah dan sulit, tentu masyarakat akan merasa nyaman dan tenang. Juga tentunya tingkat stres dalam masyarakat akan berkurang. Masyarakat bisa menjalankan aktifitas ekonominya dengan tenang dan nyaman, di bidang pendidikan mereka bisa memperoleh pendidikan yang baik dan berkualitas sedangkan di lingkungan kerja, fasilitas umum dan pemukiman mereka terasa nyaman dan menyenangkan.

Dalam rapat-rapat dengan berbagai unsur pemerintah saya selalu mengingatkan bahwa tugas dan tanggung jawab pemerintah serta pemimpin sesuai amanat undang-undang adalah mensejahterakan masyarakat. Pemerintah dan pemimpin dianggap gagal dan tidak amanah jika tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah ada untuk melayani masyarakat agar bisa mencapai sejahtera. Karena itu program pemerintah mengarah kepada upaya-upaya mensejahterakan masyarakat. Terlepasnya masyarakat dari masalah-masalah ekonomi tentu akan mengurangi tekanan dan beban hidup mereka yang sekaligus akan mengurangi kemungkinan mereka mengalami stres.

Mari kita berjabat tangan, bahu membahu, bersama-sama menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Jangan menambah ketegangan masyarakat dengan menambah-nambah isu yang tidak benar. Jangan ikut menyebarkan informasi atau isu, baik dari mulut ke mulut, melalui SMS atau jejaring sosial dan sebagainya jika belum benar-benar yakin kebenaran informasi tersebut.

Tahun ini merupakan tahun yang berat. Negara kita akan menghadapi tiga tantangan yang berat, yaitu masalah ekonomi, cuaca yang ekstrim dan tahun politik. Mari kita hadapi tantangan tersebut secara arif dan bijaksana. Semoga kita dapat mengatasi tantangan ini dengan baik dan keluar sebagai pemenangnya (the champion), bukan sebagai kelompok yang kalah dan babak belur (the looser) akibat stres. Amin! (*)

__
*koran Singgalang 6 Februari 2014